Mutiara Tak Pernah Kehilangan Nilai
Marhaen Wijayanto-Dok Pribadi-
Cerpen Marhaen Wijayanto
SAYA yang sedari kemarin asyik dengan gawai, asing dengan apa yang dituturkan kakek. Kata beliau, lawan terberat era sekarang adalah melawan bangsa sendiri, bukan perlawanan melawan penjajah. Beda kita, beda pula dengan yang terjadi di Jalur Gaza atau konflik Ukraina dan Rusia.
Nasihat beliau di hari-hari penuh keprihatinan ini, tanah yang kita pijak tiap hari disantap habis oleh saudara sendiri, bahkan oleh mereka yang mengaku satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa. Setahu saya itu isi sumpah pemuda.
Akhirnya, kakek pun kembali asyik berselancar tentang berita banjir dan jalanan putus karena hujan. Saya berpetualang di gim yang seharian. Kata pak guru, gim termasuk karya sastra. Ada alur, tokoh, konflik, dan penyelesaian, sehingga permaianan yang ada di tangan kita termasuk kategori sastra.
Sayangnya tidak ada gim yang berhubungan dengan menuntaskan banjir. Andai di gawai ini ada ada superhero menangkapi para penebang liar di hutan dan bukit-bukit, pasti saya akan memainkan dengan mengajak orang-orang sekampung.
“Bangsa ini adalah bangsa penikmat hasil ciptaan orang luar!” ujar Pak Ustaz Herman yang bergabung dengan kakek di ruang baca.
Meski belum ada gim yang tokoh antagonisnya melakukan ilegalloging, menebang, dan penambangan liar di gunung, saya tetap menggemari aneka permainan yang ada. Barang kali kakek dan Pak Ustaz Herman akan ikut bermain gim jika ada permainan dengan topik kerusakan lingkungan. Mungkin gawai di tangan akan dibanting, jika mereka berdua kalah.
“Apa mungkin kita bisa mampu membersihkan lantai dengan sapu yang kotor?”