Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Sarmin dan Orang-Orang Gila di Sekitarnya

Nurul Badriah-Dok Pribadi-

Cerpen Nurul Badriah

Sarmin pernah protes kepada ayahnya, mengapa banyak orang gila di sekitarnya?

“Mereka gila keturunan ditambah tak beruang, jadilah mereka gila!” jawab Ayah sambil tertawa terbahak-bahak.

Entah apa yang lucu, tapi akhirnya Sarmin juga ikut tertawa. Bahkan, lebih keras dari tawa ayahnya. Saat itu, Sarmin simpulkan orang yang kekurangan uang bisa menjadi gila. Seperti hari ini, ibunya mengamuk lagi. Orang bilang, ibu gila, gila keturunan. Namun, di matanya ibu tidak gila, ia hanya kekurangan uang.

Sarmin dan adik-adiknya yang jumlahnya ada enam orang itu perlu makan. Namun, tak ada beras, lauk hanya ada genjer yang Saima, adik perempuannya petik dari pematang sawah di tepi kali.

Dapur tak mengepul, hanya ada panci kosong di tengah rumah. Tadi, ibu melemparnya saat hendak memasak.

“Buat apa masak? Kita makan angin saja. Makan angin juga bikin kenyang atau makan batu saja biar kenyangnya lama,” begitu kata Ibu.

Sarmin hanya terkikik. Lucu sekali perempuan yang telah melahirkannya itu. Mana ada makan angin bisa kenyang, adanya masuk angin. Apalagi makan batu, bisa-bisa mereka mati karena lambung tak punya kemampuan untuk mencernanya.

Tak peduli dengan ibu yang terus mengoceh, kadang tangannya melempar apa saja di dekatnya. Senyata, lemparan demi lemparan itu membuat tempat yang mereka sebut rumah seperti puing-puing bangunan yang habis dibom tentara di medan perang.

Sarmin memilih untuk melangkah keluar dibandingkan bertahan di rumah yang porak-poranda. Orang-orang tak lagi peduli jika tak benar-benar menggangu mereka. Hanya anak-anak yang menonton sambil tertawa dan mengejek ibu dengan sebutan orang gila.

“Orang gila! Orang gila! Orang gila!” teriak serombongan anak-anak yang menonton di depan rumah.

“Nanti saat dewasa kalian juga akan merasakan jadi orang gila,” cibir Sarmin pelan sambil berlalu di antara anak-anak yang selalu terlihat girang melihat ibunya mengamuk begini.

Suara ibu masih terdengar samar, dan Sarmin semakin menjauh dari rumah yang tak bisa ia sebut rumah: dapur reot, lantai berserakan barang-barang tak berguna, baju kotor tersampir di mana-mana, dan pasir tebal di lantai yang hampir tak kenal sapu.

Sinar matahari ujung pagi tak lagi hangat, cahayanya mencubit-cubit kulit gelap remaja laki-laki itu. Tak peduli terik yang mulai membakar kulit, Sarmin duduk di tepian jembatan menuju sawah di kampungnya. Di bawahnya, sungai kecil dengan air yang pekat mengalir tenang.

Kaki Sarmin yang penuh bekas koreng menjuntai ke bawah. Kedua tangannya bertumpu pada beton kasar jembatan. Matanya menatap riak air yang tenang. Bayang wajahnya yang kusam tampak samar. Di hadapannya, di aliran sungai tepian kampung, tempat pemandian umum sepi. Pada jam menjelang siang tak ada yang mau pergi ke sungai, kecuali anak-anak yang sedang menikmati masa kecilnya.

Papan-papan tempat mencuci baju tampak kering. Matahari telah sempurna mengeringkannya. Nanti akan basah lagi saat ibu-ibu datang dan mencuci pakaian.

Sungai kecil ini mengalir sepanjang tepian kampung, memisahkan area kampung dengan persawahan. Tak hanya sebagai sumber irigasi, sungai ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sungai yang telah banyak menghanyutkan bau busuk dari lidah para perempuan yang mencuci pakaian. Mereka telah memakan daging saudaranya dengan sadar. Tak peduli aib atau hanya kabar burung, asal ada kabar yang bisa disampaikan sambil mencuci pakaian keluarga mereka.

“Ibu mengamuk lagi,” ucap Sarmin sambil menatap lurus aliran sungai. Ia tak menoleh sebab ia tahu di sampingnya, selalu ada remaja laki-laki seusianya yang selalu hadir saat ia duduk di tepi jembatan ini. Remaja berkaos putih dengan kulit sama gelapnya dengan dirinya.

“Kenapa lagi?” tanya remaja laki-laki itu.

“Biasa, tak ada uang yang ibu pegang meski sekadar untuk membeli mie instan,” jawab Sarmin sambil tersenyum, getir.

“Kasihan sekali,” sahut remaja di sampingnya.

“Ya, kasihan sekali. Tak ada uang itu ternyata kasihan, ya,” lagi-lagi Sarmin tersenyum getir. “Ayah tak bisa ngelimbang1 timah, katanya takut kena razia. Mau ngelangkong2 tak ada yang mau mengajak. Kata mereka ayahku gila dan tak bisa ngelangkong. Alih-alih ngelangkong nanti malah menebas orang dengan parangnya,” lanjut Sarmin dengan mata menerawang.

“Kalau begitu kau saja yang kerja,” usul remaja di samping Sarmin.

“Tidak bisa. Kata orang aku lebih gila dari ayah. Padahal mereka tak tahu saja, aku punya kekuatan super kalau hanya untuk ngelimbang maupun ngelangkong. Aku juga punya kemampuan yang siap untuk membela negara. Kau tahu, aku ini calon tentara,” timpal Sarmin. Remaja itu memang masih duduk di kelas XII SMA.

“Owh, kau juga gila, ya?” tanya remaja itu sambil terkekeh.

“Kurang ajar, kau! Aku tidak gila,” jawab Sarmin setengah membentak.

“Lantas apa namanya? Kau bilang tak ada uang bikin gila dan kau tak ada uang. Artinya kau juga gila,” sahut remaja berkaos putih di samping Sarmin. Tajam sekali. Sarmin sampai tak bisa berkata-kata sebab perkataan temannya ini memang benar. Ia tak beruang.

Kebisuan menjadi penyela dua remaja yang duduk santai di tepian jembatan itu. sapuan halus angin menjelang siang tak membuat rasa panas reda di kulit mereka. Namun, mereka mana peduli. Keduanya memang sering begini, Sarmin datang, duduk, dan remaja yang menemani Sarmin akan tiba-tiba berada di sampingnya.

Kebisuan itu dipecahkan oleh tawa anak-anak yang muncul dari arah perkampungan. Anak-anak yang tadi mengejek ibu Sarmin. Remaja yang masih menjuntaikan kaki di jembatan itu menoleh. Ia berdecak kesal sebab teman yang tak pernah ingin menyebut nama di sampingnya ini akan pergi tiba-tiba saat suasana berubah ramai.

“Jangan pergi dulu. Setidaknya kau harus menyebutkan namamu,” ucap Sarmin pada remaja di sampingnya. “Sudah berapa lama kita sering mengobrol tapi kau tak pernah mau menyebutkan nama. Lantas aku harus memanggilmu apa, Bujang Gila?” tanya Sarmin kesal.

“Ck! Apalah arti sebuah nama? Cukup bicara tanpa perlu menyebut nama, kurasa itu cukup. Kau tak perlu repot-repot mengingat namaku,” jawab remaja itu sebelum pergi tanpa menoleh.

Bisik-bisik yang samar terdengar dari balik sebatang pohon sawit di tepi sungai itu. Anak-anak yang tadi datang berdesakan di balik pohon besar itu, mengintip Sarmin. Itulah yang mereka lakukan. Sementara Sarmin kembali berdecak. Setelah ini, ia pasti akan mendapat ejekan dari anak-anak kurang ajar itu.

“Gilanya Sarmin kambuh, oi! Dia ngomong sendiri lagi,” ucap anak yang berkepala plontos dan kaos merah pudar. Sialnya, suara anak itu terdengar jelas di telinga Sarmin.

“Iya, Sarmin gilanya kambuh lagi,” sahut yang lain menimpali.

Sarmin berdecak lagi. Apalagi mendengar sahut-sahutan menyebutnya gila sampai suara anak-anak itu mengatainya gila tak lagi bisik-bisik, namun berubah ejekan yang sudah biasa Sarmin dengar.

Sarmin bangkit, ia melangkahkan kaki dan melewati anak-anak yang masih mengatainya gila itu. Kakinya menuntun untuk kembali ke rumah. Namun, yang tampak adalah keramaian di rumahnya. Ada apa lagi?

Dengan telanjang kaki, Sarmin menerobos kerumunan. Netranya menangkap sang ayah dipegangi empat laki-laki yang ia kenal sebagai tetangganya. Teriakan ayahnya menggema. Sementara rontaannya kasar, namun tertahan tenaga-tenaga para laki-laki yang memegang sang ayah.

“Ayah Sarmin kambuh!” pekik salah seorang perempuan di antara kerumunan. Bukan ibunya lagi, tapi sang ayah pun mengamuk.

Seketika dunia Sarmin penuh dengan bara. Kepalanya panas, api kemarahan yang telah terpantik sejak tadi benar-benar menyala. Remaja itu menerjang orang-orang, menyerang para laki-laki yang memegang ayahnya. Teriakan dan amukan Sarmin ikut mericuhkan siang dan memporakporandakan isi rumah.

Hanya setengah jam sampai Sarmin dan ayahnya harus diikat untuk dibawa dengan ambulans. Kekacauan itu benar-benar membuat keringat tetangganya bercucuran, letih yang meremukkan raga, serta emosi yang hampir membuat mereka ingin menghabisi dua laki-laki tak waras yang mengamuk itu. Namun, setidaknya ada akal yang membuat mereka waras untuk menolong sang tetangga agar bisa mengobati jiwa-jiwa yang sakit itu.

“Bawa segera, orang-orang di rumah ini biar kami yang urus!” perintah ketua RT yang telah berulang kali mengurusi anggota keluarga Sarmin yang keluar masuk Rumah Sakit Jiwa.

Suasana sudah berubah tenang dan sirine ambulans mengaung. Kendaraan roda empat itu membawa dua raga yang hidup dengan beban serta tekanan itu menuju rumah sakit jiwa. Sarmin dan ayahnya, gangguan mental yang telah tumbuh sejak lama kemudian dipupuk oleh keprihatinan hidup yang menekan pikiran. Keduanya kembali ke ruang perawatan, tempat mereka dibawa para saudara dan tetangga yang sejatinya sangat peduli.

 

Glosarium

1.     Ngelimbang (Bahasa Melayu Bangka): aktivitas pemisahan bijih timah dari pasir atau tanah menggunakan teknik tradisional yang menggunakan alat sederhana seperti dulang atau wajan besar, serta air.

2.     Ngelangkong (Bahasa Melayu Bangka): bekerja sebagai buruh harian di kebun, sawah, atau ladang milik orang lain.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan