Harga Plastik Melonjak, Legislator Bilang Ini
Harga Plastik Melonjak, Legislator Bilang Ini.-Antara-
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menyebut saat ini Indonesia menjadi negara yang bergantung impor untuk bahan baku plastik seperti resin dan nafta, sehingga rentan terhadap gejolak global.
Menurutnya, keterbatasan kapasitas industri petrokimia dalam negeri membuat kebutuhan bahan baku plastik masih diimpor dari Timur Tengah (Timteng). Namun, kata Nevi, pasokan nafta dari Timteng langsung terganggu ketika terjadi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran.
"Pasokan nafta langsung terganggu, padahal sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku plastik Indonesia berasal dari wilayah tersebut (Timteng, red)," kata legislator fraksi PKS itu melalui keterangan persnya, Rabu (8/4).
Nevi mengatakan harga resin dan produk plastik bakal melonjak tajam ketika pasokan impor bahan baku dari Timteng terhambat akibat konflik. "Akibatnya, harga resin dan produk plastik melonjak tajam, bahkan mencapai kenaikan hingga 30 sampai 50 persen, dan untuk jenis tertentu bisa menyentuh 70 persen,” lanjut legislator asal Sumatera Barat II itu.
Nevi menuturkan lonjakan harga bahan baku mulai menekan berbagai sektor industri hilir seperti kemasan, makanan dan minuman, serta otomotif. Ujungnya, kata dia, harga barang konsumsi di masyarakat berpotensi naik ketika biaya produksi menggerus margin pelaku usaha. Nevi menuturkan kondisi tersebut harus dilihat negara sebagai momentum melakukan transformasi industri.
Dia mendorong pemerintah mulai mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis fosil dan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, termasuk optimalisasi penggunaan bahan daur ulang. “Dalam jangka pendek, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan perlu segera mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain seperti kawasan Afrika dan India agar rantai pasok tetap terjaga,” ujar alumnus Universitas Indonesia (UI) itu.
Selain itu, Nevi menekankan pentingnya langkah strategis jangka panjang melalui penguatan industri petrokimia nasional. Dia menyebutkan pembangunan kilang dan pabrik resin dalam negeri sebagai kunci mewujudkan kemandirian industri.
Nevi juga mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan stabilisasi harga melalui insentif fiskal, subsidi terbatas, serta penyesuaian bea impor bahan baku. “Jangan sampai kita mengulang kesalahan seperti yang terjadi pada industri tekstil. Negara harus hadir menyelamatkan industri plastik nasional sebelum dampaknya semakin luas,” kata Nevi. (ant)