Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengamat: Kementan Berhasil Lakukan Swasembada

Pengamat: Kementan Berhasil Lakukan Swasembada.-screenshot-

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Al-Azar, Ujang Komarudin menilai capaian swasembada beras yang dicapai pemerintah saat ini bukan sekadar janji politik.

Menurut dia, berbagai indikator di lapangan menunjukkan kerja nyata jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) dalam setahun terakhir. “Faktanya, Kementan mampu mewujudkan swasembada meski banyak yang sebelumnya menyebut itu hanya omong-omong saja,” ujar Ujang Komarudin pada FGD Swasmebada Berkelanjutan, Rabu (10/12).

Kendati demikian, Ujang menegaskan pemerintah perlu menyiagakan data yang sinkron dengan kondisi faktual untuk menjawab keraguan publik. Ujang menyebut kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama seluruh jajaran layak diapresiasi. “Saya tahu Pak Amran pekerja keras. Teman-teman di Kementan juga jarang ada di kantor karena banyak turun ke lapangan. Alhamdulillah dalam satu tahun bisa dieksekusi,” katanya.

Menurut dia, stok beras nasional kini dalam posisi aman, sebab gudang-gudang Bulog dalam posisi penuh. “Artinya stok itu memang ada,” kata Ujang. 

Ujang menduga ada pihak-pihak yang menyebarkan kampanye hitam, sehingga memunculkan narasi keliru kepada Presiden Prabowo Subianto. “Pak Menteri Amran saya kira sudah tepat dalam merealisasikan target Presiden. Jangan sampai pencapaian ini diganggu oleh informasi yang tidak akurat,” katanya.

Ujang juga mengaku bersykur karena Kementan mampu menjaga stabilitas harga pada satu tahun terkahir. Ujang berharap, dengan jabatan Kepala Badan Panhan Nasional (Bapanas) yang juga diemban oleh Mentan Amran mampu menjaga kebutuhan masyarakat. “Karena itu momentum Swasembada ini harus dijaga, Alhamdulliah harga gabah Rp 6.500 sangat luar biasa,” jelasnya.

Terpisah, pakar komunikasi dan penyuluhan pertanian Iwan Setiawan menilai Indonesia harus tetap optimistis menjaga momentum swasembada. Menurutnya, tantangan terbesar ke depan adalah laju konversi lahan yang terus meningkat. “Semua harus optimistis mampu mempertahankan swasembada beras. Tapi konversi lahan harus diantisipasi. Pendidikan publik menjadi penggerak utama agar masyarakat memahami pentingnya menjaga lahan pertanian,” ujar Iwan. 

Iwan menekankan sinergi edukasi, kebijakan tata ruang, dan pengawasan menjadi kunci menjaga produksi beras jangka panjang. “Swasembada bukan hanya soal angka produksi, tapi strategi pertanian yang berkelanjutan,” jelas Iwan.(ant)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan