Tempilang, Tampillang, Tempelang, atau Tampilan
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
KOTA Tempilang pada hari Minggu nanti akan melaksanakan acara adat Perang Ketupat, setelah sebelumnya melaksanakan ritual adat Penimbongan.
------------------------
RITUAL Penimbongan adalah salah satu bagian dari serpihan adat lama di Pulau Bangka yang masih dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya. Melalui upacara adat Penimbongan diketahui, bahwa cara supranatural dilakukan untuk kebaikan dan keselamatan negeri dan kampung, juga secara langsung dilestarikan beberapa tarian sakral seperti Tari Serimbang, Tari Seramo, Tari Kedidi dan Tarian Campak. Melalui upacara Penimbongan diketahui bagaimana eratnya hubungan masyarakat Bangka dengan alam dan lingkungannya serta wilayah riding sebagai wilayah kosmologis penuh dengan pantang larang yang harus dirawat dan diruwat manusia agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan. Artikel ini tidak mengulas tentang Perang Ketupat dan Penimbongan, akan tetapi ingin mengulas secara singkat sejarah Kota Tempilang.
Tempilang adalah salah satu kota kuno di Pulau Bangka yang dalam Het Eiland Banka (1819) and De River van Palembang (1821) ditulis dengan toponimi “Tampillang”. Letak geografisnya pada peta, berada di pesisir Barat Pulau Bangka, dengan Pulau Semopong di sebelah Baratdaya, kemudian Tanjung Toda di sebelah Baratlaut dan pada sisi Tenggara Kota Tampillang terdapat Tanjung Kaay. Dalam peta lainnya Map of the Island Banca, Tahun 1821 oleh M. H. Court, seorang Residen Inggris untuk wilayah Palembang dan Bangka, Tempilang ditulis dengan toponimi “Tempelang”. Dalam Peta Pulau Bangka yang lebih muda, J.W. Stemfoort Tahun 1885, Tempilang ditulis dengan “Tampilan”. Pada peta J.W. Stemfoort juga ditulis keberadaan aera Fort atau wilayah Benteng Tempilang yang terletak di sisi Tenggara Tampilan dan Tanjung Semoela. Toponimi Tempilang setelah ditelusuri berasal dari nama spesifik “Kayu Tempelang” (Pterocarpus indicus Willd.) yang juga dikenal sebagai Kayu Merah.
Berdasarkan peta J.W. Stemfoort Tahun 1885, Kota Tampilan terletak di pesisir Barat pulau Bangka, berbatasan dengan Tanjung Resang, pulau Bombang, Tanjung Riah dan Tanjung Semoela. Pada sisi sebelah Baratnya Tampilan terdapat Sungai Djering dan di sisi sebelah Timurnya terdapat Sungai Kota Waringin. Kota Tampilan terhubung dengan jalan setapak ke arah Barat laut menuju kampung Nior, dan ke arah Utara menuju kampung Soekoe, Kajoearang, Paja Memandi, Mantjang, dan jalan setapak kemudian menyimpang Dua arah, Satu arah menuju ke kampung Dendang dan Satu arahnya lagi menuju kampung Kelapa. Pada sisi Utara Kota Tampilan terdapat Aik Klantji yang merupakan anak sungai Kota Waringin, dan Gunung Singiri, Gunung Tampilan, dan Kelekak Mesoelong.
Penamaan Kota dengan Toponimi Tempilang dapat dilihat dari peta-peta pulau Bangka yang lebih muda, seperti peta Tahun 1897, 1910 dan seterusnya. Kota Tempilang oleh pemerintah Hindia Belanda dimasukkan dalam wilayah “Underdistrik Kadiala” dalam wilayah Distrik Mentok, dengan mayoritas penduduk Orang Darat dengan dialek Bahasa Orang Darat. Tampaknya toponimi wilayah geografi lainnya setelah Tahun 1897 sudah seperti sebutan pada saat kondisi sekarang, misalnya Kota Tempilang pada sisi sebelah Baratnya terdapat Aik Tempilang dan pada sisi Timurnya terdapat Aik Kelantji dan bukit Pereban, selanjutnya pada sisi Utara terdapat bukit Singiri, gunung Plawan dan gunung Pandan, sedangkan pada wilayah pesisirnya terdapat pulau Semoemboeng (Satu pulau yang bila air laut surut terhubung dengan wilayah daratan Tempilang).
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin I Jayowikramo (Tahun 1724-1757), dibangunlah pusat kekuasaan awal Pulau Bangka yang berkedudukan di Kota Mentok. Penguasa Pulau Bangka sebagai wilayah Sindang yang berstatus merdeka atau bebas (vryheren) adalah orang yang ditunjuk sebagai wakil sultan dan memiliki kekuasaan yang besar sampai pada memutuskan perkara mati bagi pelaku pelanggaran adat dan aturan kesultanan. Sebagai penguasa awal yang mengatur pemerintahan dan pertambangan Timah di Pulau Bangka diangkatlah Wan Abdul Jabar atau Datuk Dalam Hakim (mertua Sultan Mahmud Badaruddin I). Setelah meninggalnya Datuk Dalam Hakim atau Wan Abdul Jabar, kemudian diangkatlah Datuk Akub atau Datuk Rangga Setiya Agama, dan selanjutnya setelah wafatnya Datuk Akub, kekuasaan atas Pulau Bangka diserahkan oleh sultan kepada putera Datuk Wan Seren yaitu Datuk Wan Usman. Jabatan Datuk Wan Usman adalah sebagai seorang Manteri Rangga yang dikenal dengan sebutan Datuk Adji Manteri Rangga Usman. Kedudukan Manteri Rangga Usman, sama kedudukannya dengan Manteri Rangga yang ada di Kesultanan Palembang Darussalam. Sama halnya dengan Datuk Dalam Hakim dan Datuk Rangga Setiya Agama, Manteri Rangga Usman memiliki kekuasaan yang besar sebagai kepala pemerintahan dan pertambangan Timah di seluruh Pulau Bangka (awalnya Wan Seren dan Wan Usman hanya berkuasa di wilayah Bangka Bagian Selatan).
Kota Mentok sebagai pusat pemerintahan dan pusat Penambangan Timah di Pulau Bangka sekitar pertengahan abad 17 dan 18 Masehi semakin berkembang dan maju. Awalnya Kota Mentok banyak dihuni orang pribumi Bangka dari Proatin Punggur dan Sukal, serta proatin di sekitarnya, kemudian Kota Mentok mulai ramai dihuni oleh orang Melayu dari Johor dan Siantan, kemudian Kota Mentok semakin ramai dengan kedatangan orang Cina dari Siam, Kamboja dan Patani serta dari Kochin. Orang Cina, datang ke Mentok Pulau Bangka, awalnya didatangkan oleh seorang peranakan Cina Palembang bernama Coeng Hoeyoet atas perintah Sultan Palembang (Sultan membuat kebijakan mendatangkan pekerja-pekerja Cina yang terampil untuk menambang Timah guna meningkatkan produksi Timah di Pulau Bangka dan untuk memenuhi kontrak perdagangan Timah dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang secara awal telah ditandatangani pada Tahun 1710 Masehi, masa sultan Muhammad Mansyur Jayo Inglago dan kesepakatan antara kongsi dagang Belanda VOC dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin dari Palembang terkait monopoli penjualan Timah Pada Tahun 1722). Pada masa Datuk Wan Abdul Jabar dan Datuk Wan Akub, orang Cina awalnya hanya tinggal di Mentok, Belinjoe (Pandji) dan Boenoet, akan tetapi pada masa Rangga Usman, pemukiman Orang Cina sudah meluas menempati juga wilayah Rambat hingga sampai ke wilayah Tempilang, terutama seiring dengan perkembangan penambangan Timah di wilayah wilayah tersebut. Setelah pertambangan Timah dibuka di Mentok kemudian tambang dibuka di Belo, pertambangan selanjutnya dibuka di Panji dekat Belinyu. Penambangan Timah selanjutnya di Pulau Bangka adalah di wilayah Tempilang (Tanpi).
Tampillang merupakan salah satu wilayah pertama di Pulau Bangka yang Timahnya dieksplorasi oleh orang Cina dengan tekhnologi Kulit. Dalam tulisan P.J. Veth (1861, hlm. 85) yang berjudul “Banka” disebutkan, bahwa Timah Bangka ditemukan dalam deposit yang besar oleh seseorang yang bernama Batin Angor dari distrik Merawang pada Tahun 1710. Penggarapan bijih Timah secara besar-besaran terjadi sejak Tahun 1740 oleh pekerja-pekerja dari Cina. Pada tahun tersebut, terdapat Tiga wilayah yang dibuka untuk penambangan Timah oleh orang Cina, yakni: di Belo, di Panji (berjarak 1 jam dari Blinju), dan di Tampillang di Selat Bangka, yang terletak di antara Sungai Jering dan Sungai Kota Waringin. Dari Tiga wilayah itu, dalam setahun diperoleh Timah sebanyak 25.000 pikul. Pertambangan Timah pada masa ini telah mempekerjakan orang yang mengerti pertambangan Timah, memperkenalkan teknologi baru yaitu Teknologi Kulit dengan penggunaan tekhnologi pompa air chinchia dan roda air atau chiacaw serta penataan penggunaan air secara tepat, melakukan peleburan (puput) balok Timah dengan ukuran yang jelas dan terstandar. Untuk mengamankan Parit-parit penambangan Timah dari penjarahan oleh Bajak Laut, Permohonan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng tanah di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di Pulau Bangka seperti pangkal yang ada di Sungai Antan dan Sungai Melaboen serta Sungai Saga. Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Sultan Palembang Ahmad Najamuddin I Adikesumo (masa pemerintahan Tahun 1757-1776 Masehi), memerintahkan Abang Pahang bergelar Tumenggung Ditamenggala (memerintah sekitar Tahun 1757-1780, Lahir sekitar Tahun 1714 dan meninggal Tanggal 12 Safar 1202 Hijriah/22 November 1787 di Mentok) untuk mendirikan benteng-benteng pertahanan dan gudang di Kota Mentok, yaitu Benteng Koto Seribu (Sekitar Tahun 1768), Benteng dan Gudang di Kota Tempilang (Sekitar Tahun 1769). Perintah Pembangunan Benteng dan gudang selanjutnya oleh Sultan Muhammad Bahauddin (memerintah Tahun 1776-1803) kepada Abang Ismail bergelar Tumenggung Kertawijaya terhadap pembangunan benteng di Sungaibuluh (Tahun 1796) dan benteng serta gudang di Teluk Kelabat Belinju (Tahun 1795). Sisa bangunan Benteng dan gudang di Belinyu serta makam Kapitan Cina Bong Kiong Hu atau Bong Kap, diperkirakan hancur pada Tahun 1850 (Lange, 1850: 16,17).