Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Hardiknas dan Krisis Makna Pendidikan

Izcha Pricispa.-Dok Pribadi-

Negara juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan sistem yang adil dan berkualitas. Guru yang ada di sekolah dan dosen yang ada di kampus itu bukan hanya sekadar pengajar, tetapi mereka juga menjadi fasilitator pembalajaran yang dapat membentuk cara berpikir siswanya. 

 

Terlepas dari itu, orang tua juga tidak bisa untuk menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Sebab pendidikan merupakan ekosistem yang saling terhubung dan bukan menjadi tanggung jawab satu pihak saja. 

 

//Hari Pendidikan: Saatnya Bercermin, Bukan Sekadar Merayakan

Di tengah arus globalisasi serta perkembangan teknologi, tantangan pendidikan hingga hari ini semakin kompleks. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kemampuan berpikir kritis tidak serta-merta ikut berkembang. Di sinilah pendidikan seharusnya hadir bukan hanya sekadar memberikan pengetahuan, melainkan juga membekali kemampuan untuk memilah, memahami, dan kemudian mengkritisi realitas.

 

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolik. Ia perlu menjadi titik balik untuk menata ulang arah pendidikan. Apakah saat ini kita sudah berada di jalur yang benar? Apakah sistem yang ada benar-benar memanusiakan manusia? 

 

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk terus diajukan, supaya pendidikan sendiri tidak kehilangan makna dasarnya. Hingga pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang masa depan individu, melainkan juga masa depan bangsa. Apabila kita ingin melihat perubahan yang nyata, maka refleksi itu tidak boleh berhenti pada wacana. 

 

Artinya, hal tersebut harus diwujudkan dalam langkah konkret, baik yang tertuang dalam kebijakan, praktik pembelajaran, maupun kesadaran kolektif. Dengan demikian, perlu ditekankan bhawa saat ini, kita perlu bercermin sebab dari sanalah perubahan yang sesungguhnya bisa dimulai.**

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan