Satukan Horor dan Komedi
Ghost in the Cell Rilis Trailer.-screenshot-
Ghost in the Cell Rilis Trailer
Setelah mendapat sambutan luar biasa di Berlin International Film Festival 2026, film Ghost in the Cell akhirnya merilis official trailer. Film terbaru garapan sutradara Joko Anwar dan persembahan Come and See Pictures itu menjanjikan tontonan yang sangat menghibur dan berisi.
Trailer menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror. Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, film ke-12 penulis dan sutradara Joko Anwar itu menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia, dikemas dengan cara yang memanjakan penonton secara visual dan audio.
Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.
Penulis dan sutradara Joko Anwar mengungkapkan cerita di film Ghost in the Cell merupakan miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup dalam penjara. “Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antarnapi yang mencerminkan masyarakat kita,” ungkap penulis dan sutradara Joko Anwar. “Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena melihat kehidupan kita sendiri,” tambahnya.
Produser Tia Hasibuan menambahkan, desain produksi film Ghost in the Cell menerapkan pendekatan yang efektif dan efisien. Proses produksi yang hanya membutuhkan waktu 22 hari, yang hanya menggunakan setengah hari di setiap harinya, membuat seluruh jajaran kru dan pemeran pun merasa nyaman. “Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi kami 22 hari, itu bisa dibilang terasa seperti 11 hari waktu produksi. Di film ini, kami juga menggunakan pendekatan yang hampir seluruhnya menggunakan one shot take. Jadi sejak pra-produksi juga sudah dipersiapkan secara matang,” ujar produser Tia Hasibuan.
Dalam film tersebut, Joko Anwar juga menggunakan pendekatan yang berbeda. Saat pengambilan gambar, Ghost in the Cell pun didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang. Sebab itu, jajaran ansambel dalam film ini merupakan para aktor terbaik Indonesia, untuk mewujudkan hasil yang maksimal.
Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama menuturkan, Joko Anwar memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting. Baginya, film itu akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini. (ant)