Babel Terus Berpotensi Hujan dan Petir
Ilustrasi-screnshot-
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta, melaporkan bahwa musim kemarau 2026 semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.
--------------
BERDASARKAN analisis dasarian I Juni 2026, wilayah yang telah memasuki musim kemarau mencakup sebagian Sumatra, Jawa, Bali, sebagian besar Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Papua Selatan. Meluasnya musim kemarau menyebabkan peningkatan jumlah wilayah yang mengalami penurunan curah hujan.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas signifikan masih berpotensi terjadi di beberapa daerah, terutama di wilayah Indonesia bagian utara dan kawasan ekuator.
Pada periode 15–18 Juni 2026, sejumlah wilayah mencatat curah hujan tinggi. Kalimantan Barat menjadi daerah dengan curah hujan tertinggi mencapai 165 mm per hari. Selain itu, Sumatra Utara mencatat 113 mm per hari, Aceh 96 mm per hari, Sumatra Barat 94 mm per hari, Jambi 74 mm per hari, dan Kepulauan Riau 62 mm per hari.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer, antara lain aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial, gelombang Kelvin, serta keberadaan sirkulasi siklonik yang mendukung pembentukan awan hujan.
Memasuki dasarian III Juni 2026, wilayah yang mengalami musim kemarau diperkirakan akan terus bertambah. Secara umum, sifat hujan selama musim kemarau diprediksi berada pada kategori bawah normal, terutama di sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi ini menunjukkan bahwa beberapa daerah berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG mengungkapkan beberapa faktor atmosfer yang berpotensi memengaruhi kondisi cuaca Indonesia dalam beberapa hari ke depan, di antaranya: Fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,92, Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -23,1,
Sirkulasi siklonik yang terbentuk di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudra Pasifik utara Papua Barat, Kondisi atmosfer lokal yang masih labil dan mendukung pertumbuhan awan hujan.
"Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi meningkatkan peluang terjadinya hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Indonesia," sebut BMKG.
Cuaca Indonesia 19–25 Juni 2026
BMKG memprakirakan cuaca Indonesia pada periode 19 hingga 21 Juni 2026 umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dengan status peringatan dini siaga diperkirakan terjadi di: Sumatra Utara, dan Kepulauan Bangka Belitung Sementara itu, potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku
Untuk periode 22 hingga 25 Juni 2026, kondisi cuaca secara umum masih didominasi hujan ringan hingga lebat. Wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang dengan status siaga adalah Papua Pegunungan. Adapun potensi angin kencang diperkirakan masih terjadi di Nusa Tenggara Timur dan Maluku
Menghadapi musim kemarau yang semakin meluas, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Masyarakat dianjurkan untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, menghemat penggunaan air, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.