Stem Cell Terobosan Pengobatan Diabetes
Founder Klinik dr. Yanti Stem Cell, Dr. Yanti Khusmiran-screnshot-
Menurutnya, klinik yang dipimpinnya lebih menekankan pendekatan preventif atau pencegahan penyakit. Ia menilai bahwa perubahan pola hidup masyarakat modern menjadi salah satu penyebab meningkatnya berbagai penyakit metabolik.
Gaya Hidup Tak Sehat
Dokter Yanti menyoroti kebiasaan masyarakat yang semakin minim aktivitas fisik namun mengonsumsi makanan tinggi kalori, tinggi gula, dan tinggi lemak. Kebiasaan mengonsumsi makanan gorengan, minuman manis, serta pola makan tidak teratur sambil beraktivitas di depan gawai dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gangguan metabolisme.
Karena itu, ia menekankan bahwa terapi medis, termasuk stem cell, tidak dapat dipisahkan dari penerapan pola hidup sehat. Edukasi mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta perubahan gaya hidup tetap menjadi langkah utama dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit kronis.
Pengobatan Penyakit Lain
Selain diabetes, terapi stem cell juga banyak digunakan pada pasien pascastroke, penyakit jantung, gangguan saraf, autoimun, hingga sejumlah kondisi yang berkaitan dengan proses penuaan atau degeneratif.
Menurut dr. Yanti, lama terapi sangat bergantung pada tingkat kerusakan organ dan kondisi masing-masing pasien. Pada beberapa kasus, perbaikan dapat mulai terlihat dalam satu hingga tiga bulan. Namun untuk pasien dengan komplikasi berat, proses pemulihan dapat berlangsung lebih dari satu tahun.
"Setiap pasien berbeda. Ada yang membaik dalam beberapa bulan, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama karena kerusakan organ sudah kronis dan melibatkan banyak komplikasi," katanya.
Selain terapi stem cell, klinik tersebut juga mengembangkan pendekatan biohacking yang bertujuan membantu mengoptimalkan fungsi sel melalui pemberian nutrisi dan terapi pendukung lainnya.
Menurut dr. Yanti, kombinasi terapi regeneratif dan perubahan gaya hidup menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
"Teknologi medis terus berkembang, tetapi pasien tetap harus menjaga pola makan, aktivitas fisik, dan disiplin menjalani terapi. Regenerasi organ perlu didukung oleh gaya hidup yang sehat agar hasilnya optimal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya kasus penyakit degeneratif pada usia produktif menjadi tantangan baru bagi dunia kesehatan. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan sebelum kerusakan organ menjadi semakin berat.
"Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pasien hidup lebih lama, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan tetap produktif," kata dr. Yanti.
Untuk biaya, ia mengungkapkan sekali treatment bisa mulai Rp50 juta karena metode stem cell masih menggunakan teknologi yang advance.***