Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Balak Enam

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh: AHMADI SOFYAN

Penulis Buku /Pemerhati Sosial Budaya 

ORANGTUA dulu berpesan bahwa ada 3 jenis orang yang harus dihindari untuk dijadikan lawan, yaitu: (1) Orang sedang berkuasa (2) Orang kaya raya (3) Orang gila. Terlebih lagi ketiga jenis itu menyatu kepada diri seseorang, sudah kaya raya, berkuasa pula tapi berperilaku gila. Siapa yang berani melawan? Kalau yang menjilat, antri sudah pasti….

 

DULU, awal-awal menulis di kolom harian BABEL POS ini, kerapkali saya menerima telpon, SMS atau sekarang WhatsApp (WA) bahkan datang menemui, yang seperti tidak terima atau kurang suka dengan gaya serita kalimat-kalimat saya mengkritik. Bahkan karena tulisan, nampaknya diancam dilaporkan ke aparat hukum pun pernah saya terima. 

Tapi di lain pihak, para akademisi, aktivis, bahkan sekelas Rektor UBB kala itu, Prof. Bustami Rahman (Allahu Yarham) dan Ustadz Fadillah Sabri (Rektor UNMUH Bangka Belitung) pernah tertawa ngakak saat mengomentari salah satu judul tulisan saya di harian ini (Babel Pos). Saya masih ingat betul,  salah satu tulisan yang bikin 2 tokoh ini ngakak adalah “Pejabat Ngeleleng”. Ternyata, disaat bersamaan dan konteks yang sama, ada orang yang menganggap keras dan menohok, tapi di sisi lain ada yang menganggap lucu dan asyik. Itulah hidup! Dan apapun itu, hidup harus tetap berjalan sekalipun dibilang “gila”.  

“Ngeleleng sangat tidak pantas menjadi judul dan tulisan Anda” komentar seorang pembaca kala itu melalui sebuah SMS karena tidak terima dengan tulisan saya yang berjudul “Pejabat Ngeleleng”. “Kalau nggak pantas jadi judul dan tulisan, berarti dijadikan fhoto saja. Anda “ngeleleng” ntar saya fhotoin. Gimana?” jawab saya sambil tertawa mengirim balasan SMS tersebut. “Dasar penulis Gila!” balasannya. Alhamdulillah, ternyata dia sudah tahu kalau saya penulis gila.  

Apa pun komentar orang, baik langsung melalui lisan maupun media sosial, bagi saya, menulis harus tetap berjalan. Menulis itu harus apa adanya (bukan sekedar ada apanya) dengan tanpa harus mengikuti aturan-aturan njlimet yang membuat mumet alias “ringem”. Karena kemampuan saya yang minimalis dalam menulis, jadinya saya tidak pernah menggunakan bahasa akademisi yang biasa saya sebut bahasa kaum “langit”. 

****

DALAM permainan gaple, mendapatkan “balak enam” (double enam) adalah hal yang sangat mengkhawatirkan bagi sebagian pemain. Karena selain menjadi target dimatikan lawan, balak enam adalah angka tertinggi yang bisa menambah besar skor lawan jika terpegang oleh kita. 

Balak yang berasal dari bala (bencana) mengartikan bahwa berbagai persoalan di negeri ini sudah pada stadium tinggi atau bencana. Oleh karenanya kerapkali kita mendengar celotehan sosial masyarakat dalam mengomentari berbagai persoalan di negeri ini dengan kalimat sudah pada posisi “balak enam”. Ekonomi yang kacau balau sedangkan pemerintah seperti tidak tahu mau berbuat apa. Politik yang kian menggelitik, karena partai dan Wakil Rakyat sibuk mengurus persoalan partai yang kian jauh dari rakyat. 

Hukum yang kian menjijikkan oleh para aparat hukum yang mempermainkan hukum demi jabatan dan karier dengan menjadikan siapa pun tersangka atau yang mau disangkakan sebagai ATM berjalan. Rusaknya pergaulan dan moralitas generasi muda yang kian mencengangkan namun tidak ada perhatian serius dari pemerintah dan sebagainya. 

Persoalan negeri ini kian komplit bagaikan merek jamu. Ditambah lagi demokrasi yang kebablasan membuat banyak para pengambil keputusan dan pemegang kekuasaan yang tak tahu diri kecuali hanya sekedar mengandalkan ambisi demi mencari kehormatan diri yang ia sangka dengan jabatan tinggi, kemuliaan diri didapatkan. Ini yang dimaksud dalam kategori “balak enam” dalam filosofi permainan rakyat yakni gaple.

Dalam kondisi menghadapi persoalan hidup, ada makna yang harus kita petik selain berusaha tanpa henti dan tawakal kepada sang Pencipta hidup. Mengeluh bukan jalan keluar, tapi berusaha dan tak lupa rajin introspeksi diri agar menjadi manusia tahu diri sehingga bisa membawa diri adalah hal yang harus dilakukan, terlebih lagi para pemegang kekuasaan agar tidak semena-mena terhadap kekuasaan yang diemban.  

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan