Jemaah Lansia Saat Puncak Haji, Dikawal Timsus Mina PPIH
Harun Arrasyid Usman-screnshot-
JEMAAH haji lanjut usia (Lansia) saat puncak haji dikawal oleh Tim Khusus (Timsus) Mina yang dibentuk oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
---------------
TIMSUS Mina ini untuk memperkuat layanan pelindungan jemaah selama fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Tim ini diprioritaskan untuk membantu jemaah lanjut usia (lansia), sakit, hingga jemaah dengan mobilitas terbatas saat pergerakan menuju dan di kawasan Mina.
Pembentukan Timsus Mina dilakukan di tengah tingginya potensi kepadatan dan kelelahan fisik jemaah pada fase Armuzna yang menjadi titik paling krusial dalam operasional haji.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armuzna) dan Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, mengatakan personel Timsus Mina dipilih dari petugas pelindungan jemaah yang telah memiliki pengalaman operasional haji sebelumnya.
"Rekan-rekan ini diberangkatkan pada tanggal 8 Zulhijah malam dan langsung menuju Mina tanpa melalui Arafah. Dengan skema ini, tenaga mereka dinilai masih fresh untuk langsung memberikan bantuan maksimal saat jemaah haji tiba," ujar Harun usai mengecek jalur pergerakan dari Mina menuju Jamarat, belum lama ini.
Harun menjelaskan Timsus Mina memiliki tugas utama melakukan pengawasan, penyambutan, serta pemantauan arus pergerakan jemaah yang tiba dari Muzdalifah menuju lokasi lontar jumrah di Jamrah Aqobah.
Tim tersebut juga akan bersiaga menyambut jemaah yang menggunakan skema murur atau melintas dari Arafah menuju Mina.
Menurut Harun, fase kedatangan jemaah di Mina menjadi salah satu titik paling rawan karena tingginya mobilitas massa dalam waktu bersamaan.
“Fase kedatangan di Mina merupakan waktu yang sangat krusial karena berpotensi memicu kepadatan dan kelelahan fisik yang tinggi,” kata Harun.
PPIH juga memetakan lokasi penempatan jemaah Indonesia di Mina. Sebagian besar jemaah ditempatkan di Zona 3 dan Zona 5 yang berada di sekitar Terowongan Muaisim. Jemaah Indonesia akan terbagi dalam 61 markas atau maktab, mulai dari maktab kecil di wilayah bawah hingga maktab besar di wilayah atas.
Selain layanan reguler, PPIH juga tengah memfinalisasi skema tanazul, yakni pola pergerakan jemaah yang langsung kembali ke hotel setelah melaksanakan lontar jumrah Aqobah. Harun menyebut skema tersebut rencananya ditempatkan di Zona 5 dan masih dalam tahap perumusan sebelum diumumkan secara resmi kepada jemaah.
Sementara itu, untuk menjaga keselamatan dan mengurangi risiko kepadatan saat lontar jumrah, PPIH mengimbau jemaah tidak berpindah jalur maupun lantai secara sembarangan di area Jamarat.
"Bagi jemaah haji yang tinggal di tenda Mina, pelaksanaan jamarat diprioritaskan di lantai 3. Kami mengimbau setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah. Tanyakan kepada petugas di lokasi arah kembali ke tenda, karena jalurnya akan berputar keluar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim," tegas Harun.