Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Limabelas)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

 

SELANJUTNYA, penjelasan tentang Kotawaringin yang pernah ditetapkan Belanda sebagai ibukota distrik Sungaiselan menggantikan Bangkakota...

----------------

DAN kemudian digantikan oleh Sungaiselan atau Pangkalsungaiselan sebagai Ibukota Distrik Sungaiselan menggantikan Kotawaringin, dijelaskan oleh H.M. Lange dalam bukunya: Het eiland Banka en zijne aangelegenheden’s Hertogenbosch: Gebr.Muller, 1850, Halaman 64,65: 

“Banka is verdeeld in acht mijn-distrikten, als: Jeboes, Blinjoe, Soengei-leat, Marawang, Pankal-pinang, Soengeislan, Koba en Toboali. Ieder distrikt staat onder het gezag van eenen administrateur, met uitzondering van de distrikten Soengei-leat en Marawang, die te zamen onder het gezag van éénen administrateur vereenigd zijn. De mijnen in het distrikt Muntok, die van minder beteekenis zijn , en waarvan naar ik meen, alleen die te Rangam, een uur gaans oostelijk van de hoofdplaats, door Chinezen bewerkt wordt , staan onder het beheer van den secretaries der residentie. Niet altijd is de verdeeling der mijndistrikten op dezen voet geweest; zoo is onder andere in de maand Mei 1820 een mijndistrikt gevestigd geworden te Kotta Wringin, dat echter later weder is ingetrokken, en het tegenwoordige distrikt Soengei- of Pankal- Slan is, zoo ik mij niet bedrieg , eerst gevestigd in 1837 of 1838, ter vervanging van het als toen ingetrokken district Bangka-Kotta. De distrikts-hoofdplaatsen dragen den naam van pankal”

Maksudnya Lange adalah: 

“Banka terbagi menjadi delapan distrik pertambangan, yaitu: Jebus, Blinju, Soengei-leat, Marawang, Pankal-pinang, Soengeislan, Koba, dan Toboali. Setiap distrik berada di bawah wewenang seorang administrator, kecuali distrik Soengei-leat dan Marawang, yang disatukan di bawah wewenang satu administrator. Tambang-tambang di distrik Muntok, yang kurang signifikan, dan yang saya yakini hanya tambang di Rangam, yang berjarak satu jam berjalan kaki ke timur ibu kota, yang dikelola oleh orang Tionghoa, berada di bawah pengelolaan sekretaris Residen. Pembagian distrik pertambangan tidak selalu berdasarkan hal ini; Dengan demikian, antara lain, sebuah distrik pertambangan didirikan di Kotta Wringin pada bulan Mei 1820, yang kemudian ditarik kembali, dan distrik Soengei atau Pankal-Slan saat ini, jika saya tidak salah, pertama kali didirikan pada tahun 1837 atau 1838, untuk menggantikan distrik Bangka-Kotta yang telah ditarik kembali pada waktu itu. Ibu kota distrik selalu menyandang nama "pankal".

Pemindahan ibukota distrik dari Kotawaringin ke Pangkalsungaiselan dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda, mengingat letak Sungaiselan yang lebih strategis berada di tengah wilayah-wilayah underdistriknya. Dalam catatan Franz Epp, pada bukunya, Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852 halaman 209 dan 212, bahwa pada distrik Sungaiselan terdiri atas beberapa daerah atau wilayah under distrik meliputi Sungaiselan, Ayerangat (atau Puput), Permisang, Pinyampar (Penyampar), Balar, Pring (Payung), dan Malik (atau Simpang Koba). Bangkakota tampaknya pada masa ini dimasukkan pada distrik Permisang.  Wilayah Permisang, Penyampar, Balar, Pring atau Payung, Paku dan Malik saat ini merupakan wilayah yang termasuk dalam wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bangka Selatan. Sementara itu wilayah seperti Sungaiselan, Air Anget atau Puput, saat ini berada dalam wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bangka Tengah. 

Sungaiselan ketika dijadikan pusat distrik hanya terdiri atas Dua kampung. Di ibukota Sungaiselan ditempatkan Satu orang administratur orang Eropa. Salah seorang administratur distrik yang pernah menjadi administratur di Distrik Sungaiselan yang sangat terkenal adalah J.K. van Der Meulen. Administratur J.K. van Der Meulen dalam sejarah tercatat sebagai orang yang menemukan Prasasti Kotakapur (608 Saka/686 Masehi) di kampung Kotakapur dekat sungai Menduk pada Tahun 1892. Prasasti Kotakapur saat ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan Nomor Inventaris D.90 (Elvian, 2021:36)

Berita tentang Bangkakota kemudian baru muncul kembali dalam catatan sejarah Kolonial Belanda ketika terjadi perlawanan besar rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Amir. Para pejuang Bangka pengikut setia Depati Amir, setelah Depati Amir ditangkap pasukan militer Belanda Tanggal  7 Januari 1851, yang masih tersisa dan mereka bertahan di wilayah pesisir Barat pulau Bangka. Kondisi sisa sisa pasukan Depati Amir semakin sulit bergerak, semakin sempit ruang geraknya karena dikepung dari segala penjuru arah, Para pejuang Bangka, rupanya telah dikepung pasukan Belanda dari berbagai arah dan dengan kekuatan pasukan yang sangat besar. Terdapat barisan pasukan Belanda yang pada tanggal 10 Februari 1851, telah dikirim ke distrik Sungaiselan, ke wilayah Bangkakota dan Permissan, kemudian satu perahu patroli kapal perang Belanda bersandar di Sungai Bangka Kota dalam kesiapsiagaan penuh. Dalam surat Residen Bangka: N: 427A Muntok, 24 February 1851 dijelaskan : ...”Den 10e begal ik my naar Soengij- Slan waar ik dien dag aankwam, en dadelyk barissans naar Banka Kota en de Permissan zond, terwyl eene kruispraauw in de rivier te Banka Kota werd gestationeerd. 

Pada saat bersamaan dijelaskan dalam laporan Belanda, bahwa masih bersiaga sebagian Kompeni ke 4 dari Batalyon ke 1, yang rencananya pada awal bulan depan mereka akan digabung untuk kemudian baru dikembalikan ke Batavia untuk dilakukan pertukaran, karena beberapa pos-pos pertahanan militer Belanda yang ada di beberapa wilayah di pulau Bangka tidak perlu lagi diduduki dan dijaga dengan ketat oleh pasukan.

Dalam catatan Franz Epp dalam bukunya yang sama Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, halaman 230, dinyatakan tentang Distrik Sungiselan: “Sungiselan ist der für Bankakotta neu ange-legte Platz mit 30 Mann Besatzung. Der Administrateur war dem von Pankalpinang untergeordnet. Kottawaringin und Tampelang waren unter der englischen Merrschaft ebenfalls Stapelplätze, sind aber jetzt verlassen. Zu Sun-giselan gehören: Sungiselan 1581, Ayerangat 771, Per-misang 450, Pinjampar 253, Balar 501, Pring 317, Malik 352 Einwohner. Maksudnya kira kira: “Sungiselan, pelabuhan yang baru didirikan untuk Bankakotta, memiliki garnisun sebanyak 30 orang. Administratornya berada di bawah administrator Pankalpinang. Kottawaringin dan Tampelang juga merupakan titik transit di bawah pemerintahan Inggris, tetapi sekarang telah ditinggalkan. Sungiselan meliputi pemukiman berikut: Sungiselan (1581 penduduk), Ayerangat (771), Permisang (450), Pinjampar (253), Balar (501), Pring (317), dan Malik (352). 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan