Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Empatbelas)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

 

WILAYAH Nyireh dan Kotawaringin dipilih sebagai tempat pejuang pejuang Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin menghindar setelah mereka membumihanguskan pertahanan di Bangkakota. 

-------------------

WILAYAH Nyireh dan Kotawaringin yang terletak di sekitar Selat Banka dipilih sebagai pusat kekuatan baru, satu jauh di utara (Kotawaringin), yang lain jauh di selatan (Nyireh), sehingga sangat efektif, karena seluruh sisi barat dan selatan pulau Bangka berada di tangan para pejuang Bangka. Selanjutnya kekuatan pasukan Depati Bahrin di Kotawaringin merupakan ancaman bagi wilayah distrik Pankalpinang, yang terletak di sebelah Timur pada garis lintang yang sama dan di Nyireh pasukan Depati Bahrin dan Batin Ganing serta pasukan para Pangeran Palembang mengendalikan seluruh distrik Selatan Toboali. 

Pada bulan Maret Tahun 1820, Letnan Reisz melancarkan serangan dengan membawa pasukan dari distrik Pangkalpinang. Sedangkan serangan dari laut dipimpin oleh Letkol Keer dan Raja Akil (Mayor Akil) dari Siak. Setelah pertempuran yang sengit, dan kekurangan persenjataan, Kotaberingin berhasil diduduki pasukan Belanda, Demang Singayudha serta Juragan Selan pemimpin perlawanan rakyat Bangka, gugur di medan pertempuran. Depati Bahrin sendiri beserta pejuang lainnya menyingkir ke wilayah Jeroek. 

Di samping menghadapi perlawanan hebat dari rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin dan pejuang lainnya di wilayah Bangkakota, Kotawaringin dan Nyireh, sejak Tahun 1819,  pasukan Belanda juga harus menghadapi perlawanan dari pangeran pangeran Kesultanan Palembang yang telah ditugaskan sejak masa Sultan Muhammad Bahauddin (Tahun 1776-1803), dan mereka masih berkuasa hingga masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II (Tahun 1804-1821) di wilayah wilayah pesisir Timur Pulau Bangka mulai dari Sungailiat, Pangkalpinang, Koba sampai ke Toboali di pesisir Barat Bagian Selatan. Para Pangeran Palembang seperti Raden Keling dan Raden Ali, Raden Badar, Raden Ahmad, Raden Sa’bah yang berperang melawan Belanda disebut dalam laporannya sebagai serangan Bajak laut.

Pasukan pejuang Bangka di Nyireh dipimpin oleh Batin Ganing, sampai dengan tanggal 20 Mei 1820, masih kuat kedudukannya dengan menghancurkan 8 Tambang Belanda, mereka juga melakukan serangan terhadap pos pos pasukan Belanda di Pesisir Timur pulau Bangka serta melakukan serangan terhadap wilayah Koba dan berhasil membuat kapal korvet Galalltée rusak dan karam. Sampai dengan bulan Desember 1820, wilayah Nyireh kemudian menjadi pusat perlawanan rakyat di wilayah Selatan Pulau Bangka., setelah bergabungnya pasukan para pangeran Palembang Raden Badar dan Raden Ali ke pasukan Batin Ganing di Nyireh.

Berita selengkapnya tentang Batin Ganing di Nyireh ditulis oleh A Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821, hal.150: “Het sneuvelen van Radeen Kling te Palembang bekend geworden zijnde, verzocht zijn broeder , Radeen BADAR, vanden Sultan de gunst hem te mogen opvolgen en wreken, zoo als hij dan ook in het laatst van November met vijf groote praauwen met volk naar Banka overkwam: hij vestigde zich te Niëri, waar hij aanstonds zijnen neef, Radeen ALI, het hoofd Batin GANING en andere voorname muitelingen tot zich riep, en met hunne hulp den ouden schuilhoek in staat van verdediging bragt. Radeen ALI had tijdens zijne vlugt van Poeloe-Tingie, eene praauw naar Linga en de naburige eilanden gezonden , om daar hulp en bijstand in te roepen , welke hem ook door de toezending van dertig praauwen, meestal van Temian, geboden werd ; het grootste gedeelte van deze praauwen lag in de rivier bij Niëri en het overige in de rivier van Banka-Kotta. Maksud dari A Meis diterjemahkan secara bebas adalah: Ketika kematian Radeen Kling diketahui di Palembang, saudaranya, Radeen BADAR, meminta bantuan Sultan untuk menggantikannya dan membalaskan dendamnya, dan pada akhir November dia datang ke Banka bersama lima orang besar dan orang-orang pengikutnya: dia menetap di Nieri (Nyireh), dimana dia segera memanggil sepupunya, Radeen ALI, ketua Batin GANING, dan pemberontak terkemuka lainnya, dan dengan bantuan mereka tempat perlindungan lama menjadi pusat pertahanan. Radeen ALI, selama pelariannya dari Poeloe-Tingie, telah mengirimkan perahu utusan ke Lingga dan pulau-pulau sekitarnya, untuk meminta bantuan dan bantuan di sana, yang juga ditawarkan kepadanya dengan pengiriman tiga puluh perahu, sebagian besar dari Temian; sebagian besar perahu ini terletak di sungai di Niëri dan sisanya di sungai di Banka-Kotta.

Pemusatan kekuatan gabungan pasukan bersenjata di Benteng Sungai Nyireh inilah yang kemudian pada Tanggal 24 Desember 1820 dengan dipimpin oleh Raden Ali mengepung dan menyerang benteng Toboali dari laut dengan menggunakan sejumlah besar perahu dan mengibarkan bendera Raden Ali.  A. Meis dalam laporan yang sama pada halaman 150,151 menyatakan penyerangan dilakukan pada dua sasaran, yaitu: bagian pasukan yang lebih kecil, dengan kekuatan 9 perahu bersenjata menyerang dan menembaki sisi Selatan bangunan benteng dengan meriam dan dengan perahu kecil pasukan mendayung ke tepi pantai dan mencapai tebing di posisi pos penjaga pantai yang telah ditinggalkan. Mereka kemudian dihadang oleh tembakan pasukan yang dipimpin oleh Letnan De Vries agar tidak mendarat pada titik ini dan Sembilan perahu bersenjata pasukan Radeen Ali berada pada jarak yang tidak terlalu berbahaya. Bagian pasukan lainnya dengan kekuatan 33 perahu bersenjata menurunkan pasukan pada bagian lain benteng di sebelah Barat Toboali. Sebuah detasemen berkekuatan 30 orang, dikirim di bawah Kapten Cuvelier untuk mencegah pendaratan dan pasukan Belanda terpaksa mundur. Selanjutnya pada saat yang bersamaan  datang laporan dari komandan penjaga di pos baru yang sedang dibangun, yaitu serangan dan tembakan dari sudut Barat terhadap pekerjaan benteng yang sedang diperbaiki oleh banyak perahu sebagai bagian dari serangan pasukan Raden Ali. Serangan ini dihadapi oleh pasukan Belanda dipimpin oleh Du Perron den Kapten Lessance dengan 60 orang pasukan baru penjaga benteng. Pasukan ini diperintahkan untuk menjaga pekerjaan renovasi penting benteng Toboali dari kehancuran. Pasukan militer Belanda kemudian mengirim Letnan Meijer dengan sebagian pasukan ke tempat para perampok mendarat. Letnan Meijer dengan tembakan artileri ringan dan senapan, melakukan tugas yang diberikan kepadanya dengan kehati-hatian dan keberanian, sehingga kemudian pasukannya dapat menghalau pasukan Raden Ali yang sudah mendarat untuk mundur ke hutan atau kembali ke perahu. Serangan pasukan Raden Ali berakhir sekitar pukul 11 pagi dan Raden Ali beserta pasukannya meninggalkan lokasi pertempuran di sekitar  benteng Toboali mengatur arah menuju ke Pulau Lepar.

Setelah Bangkakota dibumihanguskan pejuang pejuang Bangka dan Kotawaringin dikuasi oleh Pasukan Belanda, maka Bangkakota yang sudah hancur tidak mungkin lagi dijadikan sebagai ibukota distrik Sungaiselan. Selanjutnya Pemerintah Belanda sempat menjadikan Kotawaringin sebagai ibukota distrik Sungaiselan menggantikan Bangkakota. Akan tetapi akibat selalu diserang oleh pejuang pejuang Bangka dan menjadikan Kotawaringin sebagai ibukota tidak aman, maka kemudian Pemerintah Hindia Belanda memindahkan lagi ibukota Distrik Sungaiselan ke Sungaiselan. 

A. Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger, menjelaskan Kotawaringin sebagai ibukota Sungaiselan: “Bij besluit van den 23sten Mei 1820, werd Kotta-waringie tot een nieuw mijn-district verklaard en autorisatie verleend om deszelfs hoofdplaats in bekwamen staat van verdediging te brengen. Tegen de verwachting van den Luilenant-Kolonel Keer, lie ten na deszelfs vertrek van Kotta-waringie, de muitelingen zich daaromslreeks al spoedig weder gelden, herhaaldelijk be proevende om de communicatie door middel van kleine bentings af te snijden, die echter telkens door de bezetting van Kotta waringie vernield werden”. Maksudnya: “berdasarkan dekrit tanggal 23 Mei 1820, Kotta-waringie dinyatakan sebagai distrik pertambangan baru dan diberikan izin untuk menjadikan kota utamanya sebagai daerah pertahanan yang memadai. Bertentangan dengan harapan Letnan Kolonel Keer, setelah kepergiannya dari Kotta-waringie, para pemberontak segera kembali berkuasa, berulang kali mencoba memutus jalur komunikasi dengan menggunakan benteng-benteng kecil, yang bagaimanapun selalu dihancurkan oleh garnisun Kotta-waringie” (Bersambung).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan