Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Hari Kartini, Jalan Kartini dan Rumah Sakit Kartini di Pangkalpinang

Akhmad Elvian-screnshot-

KORANBABELPOS.ID.- Setiap daerah nyaris di seluruh wilayah Republik ini, selalu ada suatu tempat, nama jalan, ataupun nama Gedung yang memakai nama Pahlawan Raden Ajeng (RA) Kartini.  Termasuk di Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Sejarawan Dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, DPMP., 

melalui tulisannya mengemukakan, Peringatan Hari Kartini di Pangkalpinang dan umumnya di Pulau Bangka sudah dilaksanakan sejak bulan April Tahun 1949, di saat Pulau Bangka masih berada dalam kekuasaan Pemerintah Belanda, setelah Agresi Militer Belanda Kedua Tanggal 19 Desember 1948. 

''Peringatan Hari Lahir Kartini Tanggal 21 April khususnya dilakukan untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme kaum Wanita di Pulau Bangka,'' ujarnya.

Pada akhir bulan Maret 1949, Organisasi Persatuan Wanita Indonesia (Perwani) Bangka, mengadakan rapat yang dihadiri Perwani Sungailiat untuk mempersiapkan acara peringatan Hari Kartini Tanggal 21 April 1949. Akan tetapi karena kesibukan para pemimpin republik yang diasingkan di Pulau Bangka waktu itu, terutama masa masa awal perundingan Rum-Royen, maka pelaksanaan peringatan Hari Kartini di Bangka, baru dapat dilaksanakan pada Tanggal 24 April 1949. 

Peringatan Hari Kartini dihadiri sekitar 2000 orang peserta dipimpin langsung oleh ibu Alfiah Badrin, dilaksanakan di satu Gedung Bioskop di Pangkalpinang. Dalam kesempatan ini Sukarno berpidato tentang keistemewaan R.A Kartini, sementara itu ketua Dewan Bangka Masjarif melelang berapa koleksinya seperti barang antik dan album foto Sukarno dan para Pemimpin Republik Indonesia lainnya. Perwani adalah organisasi Persatuan Wanita Indonesia/Republik Indonesia, merupakan organisasi perjuangan perempuan yang didirikan pasca-proklamasi untuk mempertahankan kemerdekaan, berfokus pada dapur umum, bantuan sosial, dan Pendidikan. Organisasi Perwani juga berdiri di Pulau Bangka.

Sementara itu Perhimpunan Wanita Tionghoa Bangka Tjong Hoa Fu Nui Hui yang  dibentuk pada Bulan Maret 1949 (lihat Politiek Verslag over de 1e helft van de maand Maart 1949 van de residentie Bangka en Billiton No.166/2/Geheim Eigenhandig tanggal 27 Maret 1949), menghadiri satu pertemuan di Pangkalpinang yang diprakarsai oleh organisasi Serikat Rakyat Indonesia (SRI) yang juga dihadiri oleh delegasi Persatuan Tionghoa Chung Hwa Thung Men Hwee, untuk membentuk “Panitia Undangan Djamuan Teh, Untuk Para Pemimpin- Pemimpin Republik”. Sebagai panitia pelaksana ditunjuklah Tjung Tin Jan dan Hie Djung Fong (Perwakilan dari Persatuan Tionghoa), dan Lay Djit Siong serta Senduk perwakilan dari Tjong Hoa Fu Nui Hui. 

Panitia Undangan Djamuan Teh, untuk para pemimpin Pemimpin Republik, kemudian  pada Tanggal 22 April 1949 menyelenggarakan acara dalam rangka merayakan hari lahir R.A. Kartini dengan “tea party” yang dilaksanakan di Balai Kota Pangkalpinang. Sekitar 100 undangan dikirimkan untuk menghadiri perdjamuan yang dihadiri oleh P.J.M. Presiden Sukarno dan bapak bapak pemimpin Republik Indonesia yang ada di Bangka”, namun yang hadir melebihi kapasitas, 300 orang berada di dalam Balai Kota Pangkalpinang dan 500 orang tidak bisa masuk ruangan tapi berada di halaman Balai Kota Pangkalpinang. Rombongan BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) atau Majelis Permusyawaratan Federal bentukan Belanda seperti Anak Agung Gede Agung, dan dr. Ateng ikut hadir pada jamuan minum Teh dalam rangka peringatan Hari Kartini tersebut. Antusiasme Masyarakat inilah yang kemudian menjadi salahsatu sebab BFO memihak ke Republik Indonesia terutama setelah Konferensi Inter Indonesia di Yogyakarta (Tanggal 19-22 Juli 1949) dan di Jakarta (Tanggal 31 Juli-3 Agustus 1949)

Guna mengenang peristiwa peringatan Hari Kartini di Pangkalpinang, maka kemudian nama Kartini diabadikan menjadi nama Jalan Kartini, yang terletak antara Societeit de Harmoni (sekarang Panti Wangka) dengan Wilhelmina Park  (Sekarang Tamansari) dan diabadikan menjadi Rumah Sakit Kartini (Rumah Sakit Bersalin) yang sekarang menjadi Hotel Jatiwisata Pangkalpinang dan sekarang tidak berfungsi lagi.

(Disalin dari Buku Yogyakarta Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara, 1948-1949, halaman 159, diterbitkan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Tahun 2023, Penulis Akhmad Elvian dan Ali Usman.*** 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan