THR dan “Hilal”nya?
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Besarnya kebutuhan dalam merayakan Idul Fitri karena kita umat muslim kian hari kian berlebihan dalam menghadapi serta menjalani kehidupan. Kesan miring pada umat Islam bagi umat lainnya yakni suka pamer dan foya-foya tapi dengan cara meminta (mengemis setengah memaksa) adalah salah satu citra buruk bagi umat muslim Indonesia. Padahal dalam Islam sendiri, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, rumah cat baru, peralatan dapur baru, toples kue baru, dan sebagainya. Tapi merayakan Idul Fitri adalah memperbarui hati agar berimbas pada perilaku selanjutnya setelah 1 bulan penuh mengikuti pendidikan dalam madrasah Ramadhan. Nyatanya kita lebih malu kalau rasa baruisme dalam bentuk fisik seperti kue, toples, baju, sarung, kopiah, jilbab, peralatan dapur tidak terpenuhi ketimbang jiwa, perilaku dan ibadah yang tak pernah diperbarui.
Oleh karenanya, seringkali saya ungkapkan dalam diskusi, bahwa citra buruk Islam bukan karena umat agama lain, tapi oleh perilaku dan cara kita umat muslim dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang berlawanan dengan Islam itu sendiri. Sehingga peran ulama dan para da’i penting sekali dalam menyampaikan hal seperti ini agar Islam kedepan tidak semakin terpinggirkan oleh umat muslim sendiri yang pada titik akhirnya kita mayoritas berada dibawah ketiak kaum minoritas, bahkan sudah terjadi hal demikian, baik dalam politik, bisnis, hingga pencitraan umat Islam dimata umat lain.
Bangga dengan kehidupan “wah” agar dilihat (dipuji) tetangga, saudara serta kerabat, tapi dengan cara memaksa yakni memburu (mengemis setengah memaksa) THR kemana-mana adalah bentuk nyata kelemahan kita umat Islam dalam menjalani kehidupan. THR diburu, pendidikan dan ibadah Ramadhan terabaikan. Pasar, terminal, pelabuhan dan bandara semakin membeludak mendekati lebaran, masjid semakin sepi dari aktivitas ibadah. Inilah salah satu bukti bahwa umat agama lain menjadi penonton sambil tertawa sekaligus pengambil keuntungan secara materi maupun non materi dari setiap “kekeliruan” kita umat muslim dalam menjalani kehidupan. Mirisnya lagi kita tak pernah sadar dalam kekeliruan akut turun temurun tersebut yang bahkan kita anggap sebagai budaya yang harus dilestarikan, termasuk petasan, ngabuburit, hingga perburuan THR.
***
“Bro, THR-nya mana nih?” ternyata tidak hanya melalui WA, tapi kawan dari Surabaya juga iseng kirim WA ke saya. Dengan enteng saya jawab: “Soal THR, saya kasih tahu ya supaya nggak tersesat, letaknya Jl. Kusuma Bangsa 110 Surabaya (belakang Hi-Tech Mall). Nah, kalau kamu di Solo, THR berada di Jl. Slamet Riyadi 275 Solo. Gitu aja kok repot?!” sang kawan pun membalas: “Itu mah THR (Taman Hiburan Rakyat)? wkwkwkwkwk”
Begitulah Bro, ternyata THR kita sama-sama belum kelihatan “hilal”nya!
Salam THR!!***