Kabar Badai dari Tanah Kelahiran, Ketika Prahara Hukum Menimpa Bupati Rejang Lebong!
Syahril Sahidir-screnshot-
Oleh: Syahril Sahidir
Wartawan Senior, Tinggal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
BAGAI petir di tengah malam buta, Ketika mendapat kabar dan membaca berita ada operasi tangkap tangan (OTT) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Muda Berbakat, Kabupaten Rejang Lebong (RL), Provinsi Benkulu, H Muhammad Fikri Thobari.
---------------------
PENULIS yakin, Bupati Fikri --demikian sapaannya-- tak mengenal penulis. Karena Ketika bertugas menjadi wartawan Harian Rakyat Bengkulu (RB) di RL --ketika itu Kepahiang dan Lebong masih masuk wilayah RL -- Fikri masih sangat belia --berusia belasan tahun--.
Penulis saat itu akrab dengan ayahandanya Alm H Thobari Muad yang saat itu Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) RL. Sementara, Ibundanya masih kerabat dari Kelurahan Air Putih Baru, Curup, RL. Sehingga saat itu penulis kerap pula ke kediaman dinas ayahnya, termasuk ayahnya juga kerap ke kontrakan penulis untuk berdiskusi.
Penulis cukup bangga juga, dari tanah kelahiran penulis itu dalam beberapa periode terakhir jabatan Bupati kerap dipegang dari kalangan kerabat kampung asal. Mulai dari Bupati 2 Periode, Suherman --yang istrinya dari Air Putih Baru--, lalu H Syamsul Effendi --dari Air Putih Lama--, disusul berikutnya H Muhammad Fikri Thobari.
Namun, prahara itupun datang. Muhammad Fikri Thobari, yang lahir 4 Februari 1981 dan politikus Partai Amanat Nasional (PAN) yang menjabat sebagai Bupati RL periode 2025–2030 terjaring OTT KPK. Padahal ia baru menjabat sejak 20 Februari 2025. Berarti baru setahun lebih sedikit.
Banyak kerabat dan teman yang menanyakan, bagaimana ini?
Penulis hanya menanggapi singkat, terjaring OTT dari komisi anti rasuah KPK biasanya hampir dipastikan akan terjerat. Tak ada pilihan, ikuti proses hukum yang berjalan. Dan ingat, ini resiko dalam jabatan politik.
Terkadang memang terasa tidak adil. Untuk menduduki posisi kepala daerah, tidak sedikit cost politik yang dikeluarkan. Tapi, untuk tumbang malah terkesan begitu gampang.
Tapi, Inilah politik!
Adagium politik, tak ada teman sejati, yang ada hanya kepentingan.