Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel, Inilah Rekam Jejak Ali Khamenei
Ayatullah Ali Khamenei-screnshot-
* Garda terdepan perang yang dipaksakan Irak
* Presiden Republik Islam Iran (dua periode yang berbeda)
* Ketua Dewan Kebudayaan Revolusi
* Presiden Dewan Kebijaksanaan
* Pemimpin Republik Islam Iran setelah wafatnya Imam Khomeini
* Ketua Komite Revisi Konstitusi
Saat menjadi pemimpin tertinggi Iran, Korps Garda Revolusi Islam atau Korps Garda Revolusi Islam berevolusi menjadi kekuatan dominan. Di bawah kepemimpinannya, kekuatan tersebut mencakup bidang militer, politik, dan ekonomi.
Ia juga mengusung konsep "ekonomi perlawanan" untuk menopang kemandirian Iran di tengah sanksi Barat.
Sayangnya, pendekatan keras ini memicu kritik di dalam negeri. Hingga akhirnya terjadi penindakan brutal terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan.
Di mana kepemimpinan Khamenei yang melihat ketidakstabilan domestik sebagai ancaman keamanan nasional. Meski begitu, Ayatollah Ali Khamenei dikenal pragmatis. Ia menyetujui nuklik 2015 (JCPOA) untuk meredakan tekanan ekonomi akibat sanksi.
Saat langkah AS di bawah Trump menarik diri dari kesepakatan itu, Khamenei kembali ke sikap konfrontatif, menolak dialog dengan Washington. Bagkan, ia mendorong strategi "bukan damai, bukan perang" dan memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai "poros perlawanan" termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi.
Strategi ini yang menjadikan Iran sebagai pemain kunci dalam konflik regional sekaligus target utama Israel. Bagi pendukungnya, Ali Khamenei merupakan simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel.
Sedangkan, bagi para pengkritiknya, Ayatollah Ali Khamenei dianggap semakin terputus dari realitas generasi muda Iran yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi, bukan isolasi dan konflik berkepanjangan.***