Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Tiga)

Akhmad Elvian-screnshot-

 Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

 

PADA masa Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bergelar Sultan Abu Al fath Abdul fattah Muhammad Syifa Zaina Al Arifin 

-------------------

(MEMERINTAH Tahun 1651-1684 Masehi) dan Kesultanan Palembang Darussalam masa Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam (memerintah Tahun 1659-1706 Masehi), terjadi penyerangan terhadap Kesultanan Palembang Darussalam oleh Kesultanan Banten. 

Pada saat peperangan, karena mengalami kekalahan salah  seorang  putra  Sultan Banten bernama Ratu Bagus melarikan diri ke Pulau Nangka, kemudian terus pindah dan menetap serta wafat di Bangkakota. Makam Ratu Bagus di Bangkakota dikenal masyarakat setempat dengan sebutan keramat Ratu Bagus. 

Selengkapnya menurut F.S.A. De Clercq, dalam “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895. Halaman 129 dinyatakan: “De Sultan van Bantam was zeer vertoornd en zond zijn zoon Ratoe Bagoes met troepen om Palembang te tuchtigen. Gedurende drie maanden werd dit land nfgeloopen en was zijn ondergang nabij, toen er plotseling hulp kwam opdagen van de vorstentelgen, die als kluizenaars leefden op den heuvel Segoentang. Ratoe Bagoes moest daarop in allerijl terugtrekken en deed Bangka aan. Toen Boepati Noesantara dit hoorde, liet hij hem allerlei vruchten en levensmiddelen brengen en voorzag hem en de zijnen van het noodige. Zij dachten er over Palembang op nieuw aan te vallen, waartoe hulp gevraagd werd van den Sultan van Bantam. Hierop kwam evenwel geen antwoord, totdat Ratoe Bagoes te Bangka-Kota stierf, alwaar zijn graf nog altijd in eere wordt gehouden”. Maksudnya: “Sultan Banten sangat marah dan mengirim putranya, Ratoe Bagoes, bersama pasukan untuk menghukum Palembang. Selama Tiga bulan, negeri ini dikuasai, dan kehancurannya sudah di depan mata ketika bantuan tiba-tiba datang dari para pangeran yang hidup sebagai pertapa di Bukit Seguntang. Ratoe Bagoes kemudian terpaksa mundur dengan tergesa-gesa dan sampai di Bangka. Ketika Bupati Nusantara mendengar hal ini, beliau memerintahkan agar berbagai macam buah-buahan dan bahan makanan dibawa kepada beliau dan pasukannya, serta menyediakan kebutuhan mereka. Mereka mempertimbangkan untuk menyerang Palembang lagi, dan untuk itu, mereka meminta bantuan dari Sultan Banten. Namun, tidak ada tanggapan yang diterima hingga Ratoe Bagoes meninggal di Bangka-Kota, di mana makamnya masih sangat dihormati”. Menurut Sutedjo Sujitno (2011:118), yang mengutip buku Raden Ahmad, “Riwajat Poelaoe Bangka Berhoeboeng dengan Palembang”, ditulis: “Pada hari Ratu Bagus mangkat itu, masuklah sepotong balok kayu Jati yang dihanyutkan oleh arus pasang terdampar di tepi sungai itu. Lalu diambil oleh Bupati Nusantara dibuat perkakas penguburan Ratu Bagus, Sama cukup (sebab itu makam itu disebut orang Keramat Ratu Bagus atau Keramat Jati Sari). Berdasarkan keterangan masyarakat Bangkakota, makam Ratu Bagus terletak di Bangkakota.

Untuk melaksanakan pemerintahan di Pulau Bangka yang berpusat di Bangkakota diangkatlah oleh Panembahan Serpu dan Bupati Nusantara beberapa patih dan proatin serta para batin yang berasal dari penduduk pribumi Pulau Bangka. Pada masa kekuasaan Kesultanan Banten di Bangkakota terdapat beberapa  patih dan batin, yaitu 1 patih di Punggur distrik Mentok dengan 5 batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Jebus serta  3  batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Panji serta 5 batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Jeruk dengan 9 batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Menduk dengan 5 batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Balar dengan 5 batin pengandang di bawahnya, 1 patih di Pakuk dengan 5 batin pengandang di bawahnya (Wieringa, 1990:71). Di samping penataan pemerintahan ditetapkan batas masing-masing wilayah dan dilakukan penataan kembali peraturan adat istiadat berdasarkan pada adat kebiasaan masyarakat setempat.  

Sekitar Tahun 1671 Masehi, Bupati Nusantara yang berkuasa di Bangkakota wafat, kekuasaan atas Pulau Bangka secara langsung dilimpahkan kepada putrinya Ratu Agung yang telah menjadi istri sultan pertama dari Kesultanan Palembang Darussalam (menikah pada Tahun 1666 Masehi), Kiai Mas Hindi Pangeran Kesumo Abdurrohim bergelar Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam (memerintah Tahun 1659-1706 Masehi). Kekuasaan atas pulau Bangka selanjutnya diserahkan Ratu Agung kepada suaminya Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam dan Pulau Bangka secara resmi melalui ikatan perkawinan menjadi bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam (Elvian, 2012:52). Pulau Bangka kemudian menjadi wilayah Sindang (di samping wilayah Sikap dan Kepungutan) yang berstatus Mardika atau bebas (vrijheren). Di samping karena perkawinan politik antar Dua kesultanan, pengaruh Kesultanan Palembang semakin meningkat di Pulau Bangka dan Pulau Belitung, seiring  dengan melemahnya kekuasaan Kesultanan Banten yang berada di wilayah Jawa Barat, akibat pengaruh kehadiran VOC di Batavia. 

Selanjutnya dalam catatan Wieringa (1990), halaman 75 dinyatakan: “Maka lama dengan kelama itu Bupati Nusantara pun mati. Maka itu Pulau Bangka pun dapatlah pusaka kepada isterinya Sultan Palembang. Sebab itulah tanah Bangka jadi tinggal di bawah Palembang tetapi tempo itu Bupati Nusantara sudah mati. Maka segala itu patih-patih yang jadi pesirah tadi menjadi kepala-kepala, masing-masing watasnya sendiri yang sudah ditentukan dan patih tinggal di bawah Sultan Palembang”.

Proses peralihan kekuasaan di Pulau Bangka dari Kesultanan Banten ke Kesultanan Palembang dengan cara perkawinan politik, sedikit mendapat rintangan dari beberapa batin dan krio yang ada di pulau Bangka, akan tetapi penentangan tersebut berhasil diatasi dengan cepat oleh Sultan Palembang. Misalnya dalam catatan VOC, Dagh- Register Tahun 1668-1669 halaman 83, tanggal 22-26 Mei 1668 menyatakan: “Soo arriveert mede hier ter reede van het eylant Banca en voorts tot binnen de rivier een inlants vaertuygh met eenen Keey Sampoera, gebieder ofte Radja over het gemelte eylant ende oock het eylant Blytton, synde volgens syn voorgeven hier verschenen om de Comp te versoecken tot bescherm heer over syne voornoemde landen ende onderdanen”. Bahwa telah datang raja atau penguasa dari Pulau Bangka ke Batavia mengaku sebagai Raja Pulau Bangka dan Pulau Belitung bernama Keey (Kiahi) Sampoera, untuk meminta perlindungan negerinya dari kekuasaan yang baru kepada VOC. Sampoera menginginkan bantuan VOC melawan Sultan Palembang yang telah berkuasa di Pulau Bangka. Dari beberapa catatan VOC dalam Dagh-Register tentang Raja Bangka “Sampoera”, dapat disimpulkan bahwa Sampoera adalah seorang yang mengaku sebagai penguasa (raja) Bangka yang memiliki keberanian menemui penguasa VOC di Batavia dan menyatakan penentangannya terhadap kekuasaan Kesultanan Palembang, sangat jelas bahwa keinginannya menjadikan Pulau Bangka dan Pulau Belitung lepas dari kekuasaan Kesultanan Palembang dan dilakukannya dengan cara siasat yang cerdik meminta bantuan tangan VOC, walaupun sesungguhnya Sampoera hanyalah seorang raja kecil atau penguasa lokal di Pulau Bangka. Selanjutnya, tidak banyak diketahui tentang siapa sebenarnya “Sampoera” yang disebutkan dari Bangka dan mengaku sebagai seorang raja. Tidak ada pula catatan tentang Raja Sampoera yang juga pergi ke pulau Belitung dan sempat mengaku sebagai Raja Belitung serta apa hubungannya dengan Raja Belitong. 

Jan de Harde utusan VOC kemudian datang lagi ke Pulau Bangka pada Tahun 1672 Masehi, (kunjungan pertama Jan de Harde dengan kapal de Zandtlooper pada Tanggal 25 Agustus 168 merapat dekat Sungai Kulur di pesisir Timur Pulau Bangka) dan menjumpai kekuasaan di Pulau Bangka sudah berganti. Bangka sudah berada dalam wilayah Kesultanan Palembang. Jan de Harde datang ke Bangka pada Tahun 1672, tampaknya memiliki misi lain yaitu ingin mencegah Perancis yang tertarik pada daerah ini (Pulau Bangka) dan jika memungkinkan, akan membangun sebuah benteng dengan satu pasukan kecil di Pantai Timur Bangka. Ketika orang-orang setempat menyerang kapalnya, Jan de Harde membatalkan rencananya dan segera kembali ke Batavia (Dagh-Register, 1672: hal. 123-27, 189, 191-192). Perancis kemudian melihat pentingnya membangun sebuah pangkalan di Banten atau alternatifnya di India Selatan. Mereka akhirnya memilih India Selatan (Heidhues, 2008:3). Rupanya penduduk Bangka saat Jan de Harde datang masih berpihak kepada Kesultanan Banten yang menentang VOC. Jan de Harde mau tak mau harus pulang ke Batavia pada Tanggal 23 Juli 1672, sejak itu hubungan terhadap Bangka dan Belitung terputus.

Berita selanjutnya tentang Bangkakota sebagai pusat pemerintahan di Pulau Bangka ditemukan dalam catatan VOC, Dagh-Register, dinyatakan bahwa: Pada Tanggal 13 Februari 1682 Masehi, Pangeran Aria, putra Sultan Abdurrahman mendirikan Benteng di Bangkakota, di sungai bernama sama (Sungai Bangkakota), dengan Satu unit pasukan dari Makassar. Pembangunan Benteng ini terutama bertujuan untuk mengamankan jalur sempit pelayaran dan perdagangan di Selat Bangka yang terletak dekat dengan Bangkakota. Selengkapnya dalam Dagh-Register: “Den Pangeran Aria, twee de soon des ouden konings van Palembangs, soude (volgens bericht) met goede informatie en belijt van zijn vader na’t eijlant Banca vetrocken zijn om aldaar aen een reviertje genaemt Banca Kotta een goede heghte pagger op te werpen en sigh met rooven te behelven, mitgaders alle vijtge weeckene en omswervende Maccassaren van alle platsen, onder belovte van bescherminge na derwaarts materwoon te loocken om door ...... Dagh-Register 13 Februari 1682 Vol.I, hal. 169) (Bersambung).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan