Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Dua)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

 

PANGLIMA Syarah dan Hulubalang Harimau Garang kemudian menjadi “rajamuda” kesultanan Johor dan Minangkabau di Pulau Bangka berpusat di Bangkakota dan Kotawaringin, serta mereka mengatur adat istiadat serta menyebarkan agama Islam.  

-----------

DALAM Semaian 2, Carita Bangka Het Verhaal Van Bangka Tekstuitga Ve Met Introductie en Addenda, E.P., Wieringa, Vakgroep Talen en Culture van Zuidoost-Azië en Oceanië Rijksuniversiteit te Leiden, 1990, halaman 66 dinyatakan Tuan Syarah menjadi raja Bangka-Kota mendirikan Ugama Islam, dan Raja Alam Harimau Garang menjadi raja di Kota Beringin mendirikan adat perintah. Segala orang Melayu yang tinggal di tanah Bangka masuk di dalam adat Bangka; Jikalau ada anak melayu atau sama nama bangsa melayu menjadi bebas di atas segala pekerjaan raja, melainkan jika ada perang dan gaduh di darat atau di laut, maka itulah dia punya pekerjaan adat Bangka hingga sampai sekarang ini; itu adat masih terpakai dan serta menjadikan kepala kepala di bawah patih nama batin. 

Tuan Syarah atau Panglima Syarah memimpin Bangka dengan sukses, Ia membawa kebahagiaan dan kemakmuran bagi penduduknya. Ketika Tuan Syarah wafat, Ia dimakamkan di Bangkakota. Makamnya disebut sebagai Kramat tuan Syarah (Sujitno, 2011; 101) dan masyarakat mengenalnya dengan makam Kramat Karang Panjang karena galang makamnya terdiri dari susunan bebatuan karang dan ukuran makam yang panjang. Berdasarkan F.S.A. De Clercq, dalam “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895. Halaman 126: “Zoolang Bangka onder Djohor stond, leefden de bewoners in vrede en voorzagen in hun levensonderhoud door het planten vanpadie op ladang's, zooals dit de gewoonte is bij andere volken. Van Sjarah wordt het graf te Bangka-Kota tot heden als een heilige plaats vereerd”. Maksudnya diterjemahkan secara bebas: “Selama Pulau Bangka masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Johor, penduduknya hidup damai dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan menanam padi di Ladang, sebagaimana kebiasaan di antara masyarakat lain. Tuan Syarah, kemudian dimakam di Bangka-Kota dan makamnya masih dihormati sebagai tempat suci (keramat)”. 

Selanjutnya F.S.A. De Clercq dalam buku yang sama pada halaman 124, menyatakan bahwa: “Radja Alam woonde voortdurend te Kota-Beringin; na zijn dood werd zijn graf als een heilige plaats vereerd, dat ook het geval is met een stuk van de kiel van het vaartuig dat hem overbracht, tot iiutoe zichtbaar in de daarlangs stroomende rivier”. Maksudnya diterjemahkan secara bebas adalah: “Radja Alam tinggal terus-menerus di Kota-Beringin; setelah kematiannya, makamnya dihormati sebagai tempat suci (keramat), seperti halnya sepotong lunas kapal yang membawanya, yang masih terlihat di sungai yang mengalir di sampingnya”. Masyarakat mengenal makam Alam Harimau Garang dengan sebutan Keramat Tuan Garang yang saat ini pada makamnya ditandai dengan Pohon Keremutun. Sementara itu yang dimaksud dengan sepotong lunas kapal yang membawanya, yang masih terlihat di sungai yang mengalir di sampingnya adalah : “artefak lunas kapal yang terpendam akibat sedimentasi di muka Berok sungai Kotaberingin yang digunakan sebagai lokasi pemandian dan tempat merendam Sahang (Lada) masyarakat, terletak sekitar 100 meter sebelah Selatan dari masjid Jamik (dengan koordinat S 02º03.935 dan E 105º45.498). Menurut penuturan masyarakat Kotawaringin, posisi lunas kapal terkubur di dasar sungai dengan posisi melintang dari arah Barat Daya ke Timur Laut. Posisi ini bergeser dari posisi semula. Berdasarkan catatan sejarah pergeseran posisi ini disebabkan pada sekitar Tahun 1910 Masehi, lunas kapal pernah diangkat oleh Haji Abdurahman Siddik atas mufakat dengan orang-orang kampung Kotaberingin karena menghalangi masyarakat yang akan beraktifitas mandi dan mencuci di sungai, akan tetapi selama lunas kapal tersebut berada di darat, buaya-buaya yang ada di sungai Kotaberingin menjadi buas sehingga lunas kapal kemudian diturunkan lagi ke sungai dengan posisi seperti sekarang ini. Tinggalan lunas kapal diperkirakan merupakan lunas kapal Panglima Syarah dari Kesultanan Johor (Elvian, 2021:52).

Posisi Bangkakota dijelaskan oleh M.H. Court, Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, bahwa Bangkakota terletak beberapa mil dari arah Barat Laut gunung Permisan yang merupakan muara atau pintu masuk ke sungai Banca Cotta (Bangkakota). Sungai ini walaupun tidak sangat lebar, namun merupakan sungai yang bagus untuk dilewati karena lebar sungainya sama besar dari muara sampai ke kota (benteng), yang terletak sembilan mil dari muara sungai. Dalam catatan Inggris, Bangkakota memiliki jumlah populasi penduduk sebesar seratus tujuh puluh orang, tampaknya telah jauh lebih banyak dari sebelumnya ketika bajak laut merampok penduduk, dan mereka juga dibawa oleh orang Palembang, dengan dalih untuk membayar utang jasa. Kampung di sekitar Banca Cotta (Bangkakota) tidak memberikan banyak harapan dalam menghasilkan Timah. Komoditas seperti tikar, madu, dan lilin adalah barang-barang dagangan orang-orang Bangkakota. Seorang demang mengontrol wilayah ini dan kewenangannya meliputi lima Campoongs (kampung) dan dengan jumlah populasi penduduk sekitar seratus lima puluh orang (Court, 1821:211,212).

Sepeninggal Panglima Syarah, wilayah Bangkakota menjadi wilayah yang dikuasai oleh Kesultanan Banten karena letaknya sangat strategis bagi alur perdagangan Lada di kawasan selat Bangka dan selat Sunda (Mills, 1984:127), serta posisi Bangkakota sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Kesultanan Palembang Darussalam yang pada saat bersamaan juga ingin menguasai alur perdagangan strategis di kawasan Barat Nusantara. Perebutan hegemoni atas wilayah strategis perdagangan di sekitar selat Bangka dan selat Sunda menjadi faktor utama pemicu terjadinya perang antara Kesultanan Banten dan Kesultanan Palembang Darussalam. 

Pada sekitar abad XVII Masehi Kesultanan Banten berkembang mencapai puncak kejayaannya seiring dengan perkembangan penyebaran agama Islam, perkembangan politik dengan melemahnya kesultanan Demak dan perkembangan perdagangan dunia terutama dari berjalannya mekanisme perniagaan yang disebabkan karena berlangsungnya hubungan penawaran dan permintaan komoditi dalam bentuk ekspor maupun impor. 

Sebelum menjadi satu kesultanan, Banten sudah menjadi negeri penghasil Lada yang penting, hal itu terungkap dari isi perjanjian yang dilakukan antara raja Sunda dengan Henrique Lem utusan raja Portugis (Padrao Sunda Kelapa Tahun 1522). Sebagai imbalan bantuan Portugis melawan musuhnya orang Islam, maka Portugis diperbolehkan mendirikan benteng dan diberi jaminan di antaranya menuju Banten, pertama dari pulau Aur ke Banten, tempat yang dilalui pelayaran ini antara lain Chang-yao shu (pulau Mapor), Lung-ya-ta-shait (Gunung Daik di pulau Lingga), Man-t'ouhsu (pulau Roti?), Chi-shu (tujuh pulau) dan Peng-chia shan (gunung Bangka gunung Menumbing), sampai di mulut sungai Palembang perahu bisa masuk ke hulu ke Chiii-chiang (surga Palembang). Perjalanan dilanjutkan ke arah selatan memasuki Selat Bangka melalui selat yang sempit antara Tanjung Tapa dan Tanjung Berarti, San-mai shu (pulau Maspari), Kuala Tu-ma-heng (Wai Tulang Bawang), dan Lin-ma to (Wai Seputih). Dilanjutkan melalui Kao-Ta-lan-pang (Wai Sekampung), Nu-sha la (Ketapang), Shih-tan (pulau Sumur). Dari sini arah diubah ke Tenggara dan setelah 7 jam kemudian sampai di Shun-t'a (Sunda) (Mills, 1984:127). 

Pelayaran atau rute perdagangan ini sangat jelas dilakukan dengan menelusuri kawasan di sekitar pantai Timur Sumatera dan selat Bangka. Posisi di kawasan perairan pulau Bangka dan pantai Sumatera kemudian semakin penting artinya bagi pelayaran perdagangan di bagian Barat Nusantara dan Asia terutama perdagangan yang dilakukan oleh saudagar-saudagar muslim dari seluruh penjuru dunia setelah bandar Malaka jatuh ketangan Portugis (Tahun 1511 Masehi) dan kedatangan bangsa asing kulit putih ke Kepulauan Nusantara. Saudagar-saudagar muslim enggan untuk singgah di selat Malaka yang telah dikuasai oleh bangsa asing kulit putih. 

Kawasan perdagangan di bagian Barat Nusantara dan Asia tersebut menjadi perhatian utama bagi Kesultanan Banten dan Kesultanan Palembang serta menjadi penyebab utama perang antara Kesultanan Banten dan Kesultanan Palembang ketika Banten pada waktu itu diperintah oleh Sultan Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan atau Pangeran Ratu ing Banten (memerintah Tahun 1580-1596 Masehi). Pada masa Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bergelar Sultan Abu Al fath Abdul fattah Muhammad Syifa Zaina Al Arifin (memerintah Tahun 1651-1684 Masehi) wilayah dan pengaruh kekuasaan Kesultanan Banten sangat besar di Nusantara. Pengaruh kekuasaan diperluas sampai ke wilayah Cirebon, Pulau Bangka, Makassar dan Indrapura. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan