Kenapa Serba Merah Saat Imlek?
Ilustrasi-screnshot-
Tidak heran jika lampion merah berjejer menjadi pemandangan wajib setiap awal tahun lunar.
Menariknya, tidak semua warna sebenarnya boleh digunakan secara bebas saat Imlek. Warna hitam dan putih sering dihindari karena diasosiasikan dengan duka. Oleh sebab itu, dominasi merah juga menjadi bentuk penolakan simbolik terhadap kesedihan dan nasib buruk. Tradisi ini masih dijaga oleh banyak keluarga hingga sekarang, termasuk di Indonesia.
Di tengah modernisasi, warna merah tetap bertahan meski desain dan bentuk perayaannya berubah. Lampion kini dilengkapi lampu LED, angpao hadir dalam desain karakter kartun, dan dekorasi digital menghiasi layar pusat perbelanjaan.
Namun makna dasarnya tetap sama, yaitu menghadirkan harapan bahwa tahun yang baru akan lebih baik dari sebelumnya. Imlek 2026 diprediksi kembali menampilkan dominasi warna merah di berbagai kota besar Indonesia, mulai dari Jakarta, Medan, Pontianak, hingga Surabaya.
Bukan hanya sebagai ornamen budaya, tetapi juga sebagai bahasa simbol yang menyampaikan pesan optimisme kolektif di tengah situasi ekonomi dan sosial yang terus berubah. Warna merah akhirnya bukan sekadar warna, melainkan narasi panjang tentang ketakutan yang diubah menjadi harapan, mitos yang berkembang menjadi identitas, serta tradisi yang terus hidup di tengah zaman modern.***