Perjalanan Cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng, Harmonis Dalam Banyaknya Rintangan
Jenderal Hoegeng dan Meri.-screnshot-
ANEKDOT yang tak asing lagi menyebut bahwa hanya ada 3 polisi yang jujur di Indonesia ini. Yaitu Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Kapolri Jenderal Hoegeng.
------------------
DI balik laki-laki hebat itu, pasti ada Wanita hebat. Itulah Alm Meriyati Hoegeng --istri sang Jenderal--.
Perjalanan cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng yang penuh keharmonisan, namun penuh dengan lika-liku. Istri tercinta dari Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau akrab disapa Eyang Meri telah menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 3 Februari 2026.
Wanita kelahiran Jogja ini wafat di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur pada usia genap 100 tahun karena sakit. Kini, Eyang Meri telah menyusul sang suami yang lebih dulu meninggalkannya pada 14 Juli 2004 silam.
Kepergiaan wanita kelahiran Jogja, 23 Juni 1925 ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan juga masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan sang suami, Meriyati dikenal sebagai sosok yang baik dan menjadi tokoh bangsa yang dihormati.
Hubungan cintanya dengan Mantan Kapolri Pertama, Hoegeng Iman Santoso ini penuh dengan keharmonisan, meski banyak rintangan yang datang. Penasaran, seperti apa perjalanan cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng semasa hidupnya hingga maut memisahkan? Yuk simak informasinya di bawah ini.
Perjalanan Cinta
Mengutip dari buku Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar tulisan Achmad Sunjayadi dkk, pertemuan pertama Hoegeng dan Meriyati berawal dari dunia siaran yang kala itu sedang berkembang pesat di Jogja. Tahun 1946, Hoegeng yang berpangkat Mayor ini ditugaskan sebagai Penyelidik Militer Angkatan Laut yang tetap aktif menyalurkan minatnya di bidang musik.
Ia dikenal sering mengisi sebuah acara musik Hawaiian di beberapa radio Batavia dan Jogja. Karena kepiawaiannya tersebut membuat Kapten Iskak, Kepala Bagian Penerangan Markas Besar Angkatan Darat menawarkan peran kepada dirinya sebagai Saija dalam sandiwara radio "Saija Adinda".
Meri yang kala itu menjadi penyiar radio sudah ditetapkan untuk berperan sebagai Adinda. Begitu tahu bahwa Adinda akan diperankan oleh Meri, Hoegeng langsung menerima tawaran menjadi pengisi suara Saija.
Dari sinilah, keduanya makin sering berinteraksi. Mulai dari proses latihan, rekaman dan koordinasi siaran membuat hubungan mereka terus berkembang dari sekadar rekan menjadi kian dekat. Sandiwara Saija Adinda pun mendapat sambutan hangat dan diperdengarkan ulang di RRI Jogja atas permintaan Presiden Soekarno.
Berbeda dengan kisah Saidjah dan Adinda yang berakhir tragis, tanpa disadari hubungan antara Hoegeng dan Meri telah tumbuh benih-benih cinta. Sekitar satu tahun lamanya untuk saling mengenal, keduanya langsung menikah pada 31 Oktober 1946 di Jogja.
Dari pernikahannya ini, Meri dan Hoegeng dikaruniai tiga anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti dan Aditya Soegeng Roeslani.