PERAHU SEKAK (GOBANG) BAGIAN TIGA
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
ORANG Sekak tinggal di Satu Perahu Gobang yang sekaligus berfungsi sebagai rumah tinggal. Satu perahu ditempati beberapa orang terdiri atas keluarga inti dengan seorang kepala keluarga, istri, anak anak, unggas, anjing dan kucing peliharaan (Ecoma Verstege,1876: 203).
-----------------
BILA seorang laki laki dewasa menikah, maka akan tinggal di rumah perahu gobang baru dan bila belum tersedia perahu baru maka memilih tinggal di perahu gobang orang tua istrinya (Hagen,1908:39). Kelompok Orang Laut, Orang Sekak biasanya sama dengan Orang Darat dipimpin oleh seorang kepala bergelar Batin. Kelompok Orang Sekak biasanya terdiri dari 4 hingga 30 perahu (Loudon,1883: 21,22). Jumlah Kelompok dan perahu Gobang yang cukup banyak tersebut mirip seperti armada laut dan karena berkelompok pelayaran menjadi lebih jauh. Kelompok Sekak inilah yang dalam catatan sejarahnya juga membantu Depati Amir dalam pertempuran di laut dan armadanya berlayar di Laut Jawa bahkan sampai ke pulau Sapudi dekat pulau Madura. Kapal kapal Eropa yang berlayar di Laut Jawa sekitar Tahun 1848- 1851 menjadi tidak aman. Gerombolan atau kelompok Orang Sekak dari pulau Belitung dan pulau Lepar merampas kapal kapal Eropa dan hasilnya diserahkan kepada Depati Amir. Dalam catatan Nerlandosentris mereka sering dipersepsikan sebagai gerombolan Bajak Laut. Letak geografis Kepulauan Bangka Belitung sebagai kawasan favorit bagi pelayaran dunia sering tidak aman karena bajak laut.
Serangan Bajak laut terhadap pulau Bangka pertama kali dicatat dalam sejarah pada masa setelah VOC yang bersekutu dengan kesultanan Aceh dan kesultanan Johor menaklukkan Malaka dari tangan Portugis pada bulan Januari Tahun 1641 Masehi. Tidak stabilnya situasi politik dan keamanan di wilayah Bagian Barat Nusantara digunakan dengan baik oleh Bajak Laut untuk merampok. Pulau Bangka pada pertengahan abad 17 diperintah oleh kepala-kepala rakyat yang bergelar Pateh dengan beberapa hulubalangnya diserang oleh bajak laut raja Tidoeng. Pasukan bajak laut dari raja Tidoeng berasal dari salah satu daerah dari empat muara sungai Berau yang bernama Muara Pantai, Muara Guntung, Muara Garura dan Muara Tidung di Kalimantan Timur. Bajak laut raja Tidoeng, menyerang dan merampok pulau Bangka sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada penduduk (Elvian, 2016:3).
Pada pertengahan abad 17 berkuasa di pulau Bangka beberapa pateh yaitu; di daerah Jeruk seorang pateh bernama Raksakoening dan hulubalangnya yang terkenal bernama hulubalang Selangor, di daerah Menduk berkuasa seorang pateh bernama Ngincar, di daerah Depak berkuasa pateh bernama Gambir (Kembar) dengan Empat orang hulubalangnya bernama Layang Sedap, Mengadun, Mengirat, dan Sekapucik, dan di daerah Cepurak berkuasa seorang pateh bernama Ngabehi dan terakhir seorang lagi pateh bernama Singa Pandjang Djongor yang berkuasa di Kuala Menduk, sekarang wilayah Kotakapur (Wieringa, 1990:62).
Gelar pateh yang berkuasa di pulau Bangka sudah ada ketika pulau Bangka dikuasai oleh Tumenggung Dinata dari Keprabuan Majapahit sekitar abad 14 dan 15 Masehi. Keberadaan Patih atau Pateh (Pate) dapat diketahui dalam Suma Oriental karya Tome Pires, ditulis pada Tahun 1512-1515: ”berhadapan dengan Palembang adalah kepulauan Monomby, ...Monomby dan Bangka adalah satu pulau....Pulau ini memiliki Pate....Pulau ini dihuni sekitar seribu penduduk; dulu biasanya ada sekitar tujuh atau delapan ribu orang. Mereka menghasilkan lilin, madu, besi, katun, mereka memiliki banyak jenis makanan” (Cortesao, 1944:157).
Daerah pertama yang diserang bajak laut raja Tidoeng adalah daerah kekuasaan pateh Ngincar di Menduk dan daerah kekuasaan pateh Ngabehi di Cepurak. Rakyat dua daerah ini banyak yang mati dan sebagian melarikan diri ke hutan. Selanjutnya wilayah kekuasaan pateh Raksakoening di Jeruk dan wilayah kekuasaan pateh Gambir (Kembar) di wilayah Depak ikut juga diserang oleh bajak laut raja Tidoeng. Satu-satunya wilayah pateh yang tidak diserang oleh bajak laut raja Tidoeng adalah wilayah pateh Singa Pandjang Djongor yang berkuasa di wilayah Kuala Menduk. Rupanya pateh Singa Pandjang Djongor telah melakukan kerjasama dengan bajak laut raja Tidoeng (memberika informasi dan jalan yang memudahkan bagi para bajak laut menguasai wilayah pulau Bangka).
Kesultanan Johor dan Kesultanan Minangkabau yang pada masa itu sangat berpengaruh di kawasan pantai Timur Sumatera, selat Bangka dan selat Malaka terutama setelah Kota Malaka jatuh ketangan VOC Belanda, berusaha untuk mengamankan jalur perdagangan pada kawasan ini. Dua kesultanan besar tersebut menjalin ikatan kerjasama antara lain, Kesultanan Johor memberikan perlindungan terhadap orang-orang Minangkabau yang berada di Negeri Sembilan dan Kesultanan Minangkabau memberi perlindungan terhadap jalur perdagangan di selat Bangka dan di kawasan pantai Timur Sumatera termasuk wilayah di perairan sekitar pulau Bangka. Panglima Syarah dari kesultanan Johor dengan pasukannya dalam rangka pengamanan wilayah perairan di sekitar pulau Bangka masuk ke pulau Bangka melalui sungai yang bermuara di wilayah pesisir Barat pulau Bangka yang kemudian sungai tersebut diberi nama Kotaberingin sedangkan Hulubalang Alam Harimau Garang dari kesultanan Minangkabau masuk ke pulau Bangka menyusuri sungai yang bermuara di pesisir Timur pulau Bangka yang kemudian sungai tersebut diberi nama sungai Jeroek. Penyerangan terhadap bajak laut raja Tidoeng oleh pasukan Panglima Syarah dan Hulubalang Harimau Garang bersama-sama dengan pateh-pateh dan hulubalang yang berkuasa di Bangka dilakukan melalui laut dan sungai dipimpin oleh Panglima Syarah, sedangkan penyerangan melalui darat dilakukan dan dipimpin oleh Hulubalang Alam Harimau Garang. Setelah serangan dari darat dan laut, bajak laut Tidung berhasil dikalahkan, dan melarikan diri serta bertahan di bukit Sambung Giri (daerah Merawang), sementara separuh hulubalang dan pasukannya bersembunyi di daerah Cengal. Pasukan Hulubalang Alam Harimau Garang terus menyerang pasukan bajak laut Tidoeng dan raja Tidoeng kemudian mati terbunuh.
Serangan Bajak Laut terhadap pulau Bangka selanjutnya diketahui berdasarkan catatan sejarah dan dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, bundel Bangka No.41, pada masa pulau Bangka di bawah pemerintahan Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Muhammad Bahauddin (masa pemerintahan Tahun 1776-1803 Masehi), sekitar Tahun 1792 Masehi, pulau Bangka mengalami masa yang sulit karena merajalelanya perampokan terhadap pangkal-pangkal pusat penambangan Timah milik kesultanan yang dilakukan oleh perompak laut yang menamakan diri “Rayad” dari Siak dan juga mengganasnya para perampok yang menamakan dirinya dengan sebutan Lanun (Elvian, 2016:81). Para perompak laut (zeerovers) menjarah kekayaan pulau Bangka, umumnya masuk dan merampok wilayah kawasan pesisir Barat dan kawasan pesisir Timur pulau dengan membawa perahu-perahu bersenjata dari teluk Kelabat, kemudian menyilang melalui wilayah pedalaman Bangka menuju kawasan di selat Bangka dan laut Cina, memanfaatkan jalur sungai seperti sungai Layang, sungai Semubur, sungai Jering, dan sungai Merawang. Hanya untuk sebagian kecil wilayah, perahu-perahu perampok harus tertahan terutama menghadapi kawasan yang berawa-rawa.
Rayad atau Rakyat adalah suku laut atau orang Laut yang mendiami Siak. Dalam hubungan dengan kerajaan Riau dan Johor, suku laut ini dikenal pula dengan nama “Rakyat” bersama suku-suku lainnya. Untuk membedakan mereka dari rakyat lainnya mereka juga disebut Rakyat Laut. Dalam kedudukan rakyat sultan, mereka tidak dikenakan pajak perorangan, tetapi diwajibkan memberi jasa sebagai pengayuh perahu kerajaan, menyediakan perahu jika diperlukan oleh penguasa dan sebagainya (Lapian, 2009:79). Pada Tahun 1767 Masehi, Raja Ismail dari Siak (masa pemerintahan Tahun 1760-1761 Masehi, kemudian terusir dan dipaksa turun oleh VOC) dengan didukung oleh orang Laut terus mendominasi kawasan pantai Timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan Timah di pulau Bangka. Laporan Belanda menyebutkan Palembang telah membayar sebesar 3000 ringgit kepada raja Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan (Barnard, T.P, 2001:331-342). Tampaknya perlawanan Raja Ismail dari Siak dilanjutkan melalui perlawanan di perairan laut pulau Bangka dengan menyerang berbagai kepentingan VOC dan sultan Palembang, terutama kepentingan perdagangan Timah di pulau Bangka yang dimonopoli Sultan Palembang dan VOC.
Serangan Bajak Laut terhadap pulau Bangka berikutnya terjadi di daerah-daerah di Bagian Selatan pulau Bangka, seperti Kepo, Ulin, Nyireh. Daerah Bangkakota yang memilki benteng pertahanan terletak di pesisir Barat Pulau Bangka juga tidak luput dari perampokan dan penjarahan perompak laut yang menamakan dirinya Lanon (lanun,Illanun, Irranun). Dengan pengecualian Toboali, dimana kubu atau benteng pertahanan kemudian telah buru-buru dibangun dekat semua wilayah sungai di sepanjang pantai Barat dan Selatan, terutama yang dari Banko-Kutto, Selan dan Kappu, kubu atau benteng diberikan tempat tinggal dan keamanan untuk menghadapi Lanons (Horsfield, 1848:317). Bajak laut yang menamakan diri Lanun membangun Pangkalan di sisi Utara sungai Kepo, sebelum menyerang dan merampas kawasan di pesisir Barat pulau Bangka dan kawasan di pesisir Timur pulau Bangka, bahkan mereka menjarah ke wilayah Paku di pedalaman pulau Bangka (bersambung).