Leptospirosis Ancam Korban Banjir
BGN Salurkan Makanan Bergizi yang Sehat.-screnshot-
SANITASI yang buruk, kondisi yang seadanya bersama pengungsi lainnya serta daya tahan tubuh yang drop, membuat kondisi pengungsi korban banjir Sumatera rentan diserang penyakit.
--------------
AHLI Spesialis Penyakit Dalam dan Guru Besar FKUI/RSCM Prof Ari Fahrial Syam mengatakan selain penyakit tetanus penyakit yang perlu diantisipasi jika berhubungan dengan pembersihan lokasi banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini acap kali muncul setelah banjir.
Penularan Leptospirosis
Penyakit ini terjadi karena pasien tertular melalui paparan dengan kotoran tikus. Penyakit leptospirosis juga dikenal dengan penyakit demam kuning. Karena memang pasien dengan leptospirosis ini mengalami demam tinggi, menggigil, mual, muntah dan mata, kulit serta buang air kecil berwarna kuning.
Karena memang infeksi ini menyerang liver maka sering disebut hepatitis non virus. Yang menjadi masalah lain adalah komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan terjadi gagal ginjal akut, pankreatitis, meningitis dan perdarahan jika infeksi setelah berlangsung sistemis.
"Mengingat dampak yang memang tidak kecil masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir ini harus dibantu," katanya kepada Disway.
Mereka harus dilengkapi dengan alat pelindung diri saat membersihkan bekas banjir, misal dengan sepatu bot, masker, sarung tangan pelindung kepala dan mata.
Mengingat bakteri ini bisa masuk dari luka pada kaki dan tangan atau tertelan.
Disinfektan juga harus didistribusikan kepada masyarakat yang akan membersihkan lokasi pasca banjir.
Untuk para pengungsi harus dijaga bahwa para pengungsi tetap dijaga makan dan minumnya, selimut dan alas tidur yang memadai dan berbagai fasilitas protokol Kesehatan seperti, masker dan sabun atau hand sanitizer untuk menekan penularan infeksi.
"Kita semua berharap musibah ini cepat berlalu dan kondisi kerusakan bisa segera teratasi, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa," katanya.
Musibah banjir besar yang melanda Sumatera di akhir November 2025 ini yang menyebabkan lebih dari 100 korban meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan infrastruktur yang luas di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.***