Hambatan atau kesulitan itu bisa datang dari dalam diri guru sendiri, misalnya timbul rasa malas ketika hendak mengajar atau mungkin dari lingkungan sekitar. Di sinilah sifat berani mengambil keputusan sangat dibutuhkan oleh seorang guru.
Berani di sini juga bisa diartikan bahwa seorang guru harus berani mengambil suatu keputusan dalam menginovasi semua yang ada pada dirinya.
Misalnya, ketika seorang guru merasa belum berhasil mengajarkan ilmu kepada siswanya, maka ia harus berani mereformasi semua yang berhubungan dengan pengajaran, baik itu sistem pembelajaran, media pembelajaran ataupun metode pembelajarannya.
Berani di sini bukan hanya untuk personal guru saja, tetapi guru juga harus mampu menimbulkan rasa berani siswanya. Guru harus mampu menciptakan keberanian siswa, tentu dalam hal yang positif Menurut Dwiatmanto, dkk., dalam Jurnal Pendidikan Dewantara Guru berperan sebagai aktor utama dalam mengelola pembelajaran agar siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Keberhasilan proses ini ditandai dengan terjadinya interaksi dua arah yang efektif, di mana guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai edukatif yang mendorong keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan.
Salah satu indikator penting dari keaktifan siswa adalah kemampuan mereka untuk berbicara, berpendapat, dan mengambil sikap dalam situasi pembelajaran. Keberanian semacam ini sangat penting di era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang menuntut siswa memiliki keterampilan berpikir kritis, analitis, dan mampu mengambil keputusan secara rasional. Karena hanya sedikit siswa yang berani mengemukakan pendapat, dan kalau pun ada biasanya berasal dari kelompok siswa yang sudah aktif sebelumnya.
Derry Nodyanto, menambahkan guru berani itu adalah yang memiliki behaviour, responsibility, dan innovation atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia guru berani itu memiliki perilaku, tanggung jawab dan inovasi.
Lebih lanjut ia menjabarkan bahwa guru sebagai pendidik harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang berkarakter dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, keluarga, maupun dalam masyarakat. Akan menjadi sia-sia apabila guru melarang pendidikan karakter kepada anak didik, namun perilaku berkarakter belum menjadi bagian dari hidup seorang guru.
Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab. Tentu tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang guru harus dimaknai secara holistik, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan, agama, dan juga negaranya. Lebih khusus lagi tanggung jawab kepada anak didik sebagai konsumen yang menerima jasa jasa dari seorang guru. Oleh karena itu merupakan kesalahan besar jika tanggung jawab seorang guru hanya sekedar “asal memenuhi tugasâ€.