WARNA merah selalu muncul paling dominan setiap kali perayaan Imlek tiba.
-------------
DARI lampion yang menggantung di jalan, hiasan pintu rumah, pakaian yang dikenakan, sampai amplop angpao, semuanya seolah sepakat memilih satu warna yang sama. Banyak orang menganggap hal ini hanya soal estetika atau kebiasaan turun temurun.
Fakta terungkap jika di balik warna merah tersimpan cerita panjang, keyakinan budaya, hingga simbol psikologis yang jarang dibahas secara utuh.
Fenomena ini bukan sekadar tradisi visual, tetapi juga bagian dari cara masyarakat Tionghoa memaknai harapan, rasa aman, dan optimisme di awal tahun baru. Menurut catatan sejarah budaya Tiongkok yang dipublikasikan oleh Chinese Folk Culture Society, penggunaan warna merah dalam perayaan tahun baru lunar berakar dari legenda monster Nian yang dipercaya muncul setiap akhir tahun untuk mengganggu pemukiman warga.
Dalam kisah tersebut, Nian digambarkan takut terhadap suara keras, api, dan warna merah. Karena itulah masyarakat kuno mulai menghiasi rumah dengan kain merah, membakar petasan, dan menyalakan obor untuk mengusir makhluk tersebut.
Walau kini cerita itu lebih dipahami sebagai mitologi, simbol yang ditinggalkannya justru bertahan hingga ribuan tahun kemudian. Dalam perkembangan budaya Tionghoa modern, merah tidak lagi hanya dimaknai sebagai penangkal mara bahaya, tetapi juga simbol kebahagiaan, keberuntungan, dan kemakmuran.
Akademi Ilmu Sosial Tiongkok dalam publikasi kajian budaya tahunan menyebutkan bahwa warna merah secara psikologis diasosiasikan dengan energi positif, keberanian, dan awal baru. Itulah sebabnya pernikahan tradisional Tionghoa, perayaan kelahiran, hingga pembukaan usaha baru juga identik dengan warna merah.
Di Indonesia, tradisi ini ikut beradaptasi dengan konteks lokal. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa . Masyarakat Adat pernah menjelaskan bahwa simbol merah dalam Imlek di Indonesia tidak hanya dipahami sebagai tradisi etnis, tetapi juga sebagai ekspresi kebudayaan yang telah melebur dalam kehidupan multikultural.
Warna merah menjadi penanda visual yang mudah dikenali publik sebagai momen perayaan besar, mirip seperti hijau saat Idul Fitri atau merah putih saat hari kemerdekaan. Selain faktor sejarah dan simbolisme, merah juga dipilih karena kontras dengan musim dingin di wilayah asal perayaan ini. Dalam kalender lunar, Imlek menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi.
Warna merah yang hangat dianggap mampu menghadirkan semangat baru setelah periode panjang yang dingin dan suram. Pandangan ini diperkuat oleh riset psikologi warna yang dipublikasikan oleh Journal of Cross Cultural Psychology, yang menyebutkan bahwa merah dapat meningkatkan perasaan antusiasme dan optimisme pada banyak budaya Asia Timur.
Tradisi angpao juga memperkuat dominasi warna merah. Amplop merah bukan sekadar wadah uang, melainkan simbol doa agar penerimanya memperoleh keberuntungan dan keselamatan sepanjang tahun.
Menurut penjelasan dari Shanghai Museum dalam arsip kebudayaan populer, pemberian uang tanpa amplop merah dianggap menghilangkan makna simbolisnya. Karena itu, warna merah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual berbagi rezeki saat Imlek.
Di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan kawasan pecinan, warna merah juga berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang efektif. Dinas Pariwisata DKI Jakarta dalam laporan kegiatan budaya tahunan menyebutkan bahwa dekorasi merah saat Imlek meningkatkan daya tarik wisata karena mudah dikenali, fotogenik, dan menciptakan suasana perayaan yang kuat.
Tidak heran jika lampion merah berjejer menjadi pemandangan wajib setiap awal tahun lunar.