//Quo Vadis Pendidik(an) Indonesia
Ke mana arah pendidikan Indonesia akan berlayar? Di tengah lautan modernitas yang berombak kencang, kita tampak kehilangan kompas. Guru sibuk dengan laporan daring, rekap nilai, dan berkas administrasi yang tiada henti. Dosen terjebak dalam kewajiban publikasi yang sering kali tidak kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Sementara murid dan mahasiswa tumbuh dalam budaya serba instan, kehilangan kepekaan, kehilangan rasa hormat, kehilangan adab.
Kita semua sepakat, bahwa kehilangan adab adalah awal dari kehancuran peradaban. Ketika murid tidak lagi menghormati guru, maka runtuhlah hubungan spiritual yang menjadi inti pendidikan. Pendidikan yang ideal bukanlah sekadar transmisi ilmu, tetapi transformasi jiwa, membentuk manusia yang mengenal Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Namun kini, transformasi itu tertutup oleh obsesi pada akreditasi dan kompetisi.
Pendidik yang dulu menyalakan lentera kini justru harus berjuang mencari cahaya bagi dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang mencari pekerjaan tambahan, mengajar les, atau berdagang kecil-kecilan demi menutupi kebutuhan hidup. Di tengah tekanan itu, tak sedikit yang kehilangan semangat, tapi tetap bertahan karena sadar, di setiap huruf yang diajarkan, tersimpan pahala yang Tuhan siapkan.
Jika benar pendidik adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mengapa negara membiarkan mereka berjuang sendiri? Jika benar pendidikan adalah jalan menuju kemajuan, mengapa mereka yang membuka jalan itu justru dibiarkan terjal dan berliku? Pendidikan seharusnya menjadi ruang pemuliaan manusia, bukan medan pengorbanan tanpa penghargaan.
Kita harus kembali pada hakikat pendidikan sebagaimana digariskan oleh para pemikir muslim klasik, yakni menanamkan adab sebelum ilmu, membentuk akhlak sebelum kecerdasan. Karena pendidikan bukanlah proyek ekonomi, melainkan ikhtiar spiritual untuk memanusiakan manusia.
Pahlawan pendidikan memang tidak selalu berperang dengan senjata, tapi dengan kesabaran, air mata, dan doa yang tak pernah disebut di dalam berita. Mereka mungkin tak tercatat dalam monumen, tapi setiap hati murid yang tercerahkan adalah tugu abadi bagi perjuangan mereka.
Kelak, ketika bangsa ini benar-benar sadar, mungkin kita akan menunduk malu menyadari, bahwa pahlawan yang kita cari selama ini telah lama ada di depan kelas, berdiri dengan kapur/spidol di tangan, mengajarkan kita tentang arti hidup, sebelum kita sempat belajar tentang hidup itu sendiri.(Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)