Untuk memperkuat puisi agar mampu memelihara nurani dan keberagaman, beberapa langkah berikut bisa diupayakan:
a. Festival Puisi Pesantren
Forum tahunan qasidah dan puisian santri yang menyuarakan nilai toleransi, lingkungan, ketahanan sosial.
b. Kolaborasi dengan Balai Bahasa
Mengadakan pelatihan menulis puisi daerah berbasis tradisi leluhur, agar bahasa lokal tetap hidup dalam syair universal.
c. Publikasi Digital
Memanfaatkan platform NU Online dan literasi digital (lainnya) untuk menyiarkan syiar puisi dalam bentuk tulisan, audio, dan video, untuk menjangkau generasi muda.
d. Jaringan Guru Sastra Pesantren
Mendorong guru-guru pesantren menulis artikel reflektif tentang makna syair dan puisi dalam tradisi keislaman mereka.
Arah Besar: Puisi sebagai Modal Kebudayaan Islam Nusantara
Puisi dapat dan harus menjadi prasyarat budaya Nusantara yang inklusif, membumikan semangat tawasuth dan tasamuh, nuansa sufistik, serta penghormatan terhadap keberagaman umat. Ketika dibaca, puisi bukan sekadar kata; ia adalah “wasathiyah” dalam bentuk bahasa, toleransi yang lembut. Puisi adalah tarian nurani antara kiai dan santri, antara bahasa Arab, Jawa, dan Bahasa Indonesia.
Di saat dunia kadang dikuasai suara keras, polarisasi, ujaran kebencian, konflik norma; puisi hadir sebagai kekuatan kecil yang menenangkan. Ia adalah “zikir berbahasa” yang mengajarkan bait keindahan, bait keadilan, dan bait kedamaian. Di tangan santri, puisi bisa menjadi instrumen dakwah halus, tidak dengan kritik tajam, tetapi dengan pengharapan penuh keteduhan.
Meneguhkan puisi adalah meneguhkan nurani bangsa; meneguhkan keberagaman; dan meneguhkan Islam Nusantara sebagai agama cinta yang inklusif. Mari kita terus menghidupkan, menyebarkan, dan merawat puisi, sebagai wajah keislaman yang penuh rasa dan ruang bagi semua.(Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)*